KONTAN.CO.ID - Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) untuk kuartal IV-2026 masing-masing sebesar US$6, menjadi US$60 per barel (Brent) dan US$56 per barel (WTI). Melansir
Reuters Senin (23/2/2026), revisi ini didorong oleh perkiraan stok komersial negara-negara OECD yang lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Bank investasi tersebut kini memperkirakan kenaikan persediaan global 2026 di negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) hanya 19%, turun dari asumsi sebelumnya 27%.
Baca Juga: India Merevisi Perjanjian Pajak Dengan Prancis, Pangkas Pajak Dividen Investor Besar Meski demikian, Goldman tetap mempertahankan proyeksi surplus pasar minyak sebesar 2,3 juta barel per hari (bph) pada 2026, dengan asumsi tidak ada gangguan pasokan besar dan belum tercapainya perdamaian Rusia–Ukraina. Goldman juga memperkirakan harga rata-rata Brent dan WTI pada 2027 masing-masing berada di level US$65 per barel dan US$61 per barel. OPEC8+ Diproyeksi Tambah Produksi Bertahap Dengan asumsi stok yang lebih terkendali, Goldman memperkirakan kelompok produsen dalam aliansi OPEC+ khususnya subkelompok OPEC8+ akan mulai meningkatkan produksi secara bertahap pada kuartal II-2026. Namun, bank tersebut juga mengingatkan adanya risiko penurunan harga. Brent berpotensi turun US$5 dan WTI US$8 pada kuartal IV-2026 apabila pelonggaran sanksi terhadap Iran atau Rusia mempercepat peningkatan pasokan global dalam jangka panjang.
Baca Juga: Dolar Melemah Usai Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump Senin (23/2/2026) Barclays: Risiko Geopolitik Masih Asimetris ke Atas Secara terpisah, Barclays menyatakan fundamental pasar minyak saat ini “bertolak belakang” dengan narasi surplus besar (super glut). Meski harga minyak telah naik sekitar 15% sejak awal tahun, Barclays menilai ketegangan geopolitik masih menyimpan risiko kenaikan harga yang asimetris. Menurut Barclays, gangguan pasokan sebesar 1 juta barel per hari setara sekitar separuh ekspor minyak mentah Iran selama 12 bulan dapat mendorong kenaikan nilai wajar harga minyak hingga US$8 per barel. Namun pada perdagangan Senin, harga Brent dan WTI terkoreksi lebih dari 1% setelah AS dan Iran bersiap menggelar putaran ketiga perundingan nuklir, yang meredakan kekhawatiran eskalasi konflik.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Turun Senin (23/2) di Tengah Kekhawatiran Tarif AS Perbandingan Proyeksi Sejumlah Lembaga (per 23 Februari 2026) Beberapa proyeksi harga minyak dari berbagai lembaga keuangan:
- Goldman Sachs: Brent US$64 (2026), US$65 (2027); WTI US$60 (2026), US$61 (2027)
- Barclays: Brent US$65 (2026)
- Wells Fargo Investment Institute: Brent US$65–75 (2026); WTI US$60–70 (2026)
- JP Morgan: Brent US$58 (2026), US$57 (2027); WTI US$54 (2026), US$53 (2027)
- UBS: Brent US$67 (2026)
Revisi proyeksi ini mencerminkan dinamika pasar yang masih dipengaruhi kombinasi faktor fundamental seperti persediaan dan produksi serta risiko geopolitik, terutama terkait Iran dan Rusia. Bagi pelaku pasar energi, keseimbangan antara potensi surplus struktural dan risiko gangguan pasokan jangka pendek menjadi faktor kunci arah harga minyak dalam dua tahun ke depan.