KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dunia ikut menyanyikan satu bait dari film KPop Demon Hunters:
"We're goin' up, up, up! It's our moment... gonna be, gonna be golden." Kita pun punya lagu sendiri tentang emas: Indonesia Emas 2045. Pekan ini Republik Indonesia genap 81 tahun; sembilan belas tahun lagi seabad. Sayangnya, aritmetika kependudukan menyampaikan kabar tak enak di tengah pesta: momen emas itu punya tanggal kedaluwarsa dan jatuhnya sebelum ulang tahun ke-100.
Puncaknya sudah lewat
SUPAS 2025 mencatat penduduk Indonesia 284,67 juta jiwa. Angka yang lebih penting: rasio ketergantungan 45,05, naik dari 44,33 pada 2020. Sebelumnya, selama 2010–2020, rasio ini terus turun (51,31; 49,20; 44,33), lalu berbalik naik. Pada proyeksi SP2020, titik terendahnya sepanjang 2020–2050 memang jatuh pada 2020. Artinya, puncak bonus demografi pertama sudah lewat dan sejak itu kita berjalan keluar dari jendela, bukan masuk ke dalamnya.
Rasio itu diproyeksikan akan menembus ambang 50 pada 2041 atau empat tahun sebelum seabad kemerdekaan. Kita akan tiba di tahun 2045 dengan pidato Indonesia Emas, tetapi tanpa struktur umur yang selama ini jadi alasan optimisme.
Banyak pekerja, sedikit pekerjaan layak
Bonus demografi dihitung dari umur, tetapi ditagih sebagai produktivitas. Sakernas Februari 2026 mencatat 147,67 juta penduduk bekerja. Dari jumlah itu, 59,42% bekerja di sektor informal. Artinya tanpa kontrak, tanpa pesangon, dan umumnya tanpa iuran pensiun. Sementara itu, pengangguran terbuka 4,68%, tetapi pada usia 15–24 tahun angkanya 16,36% atau tiga setengah kali angka nasional. Pola menurut pendidikan lebih ironis. Pengangguran lulusan SMK 7,74% dan Diploma IV/S1–S3 6,13%, sementara lulusan SD ke bawah hanya 2,32%. Jangan salah, ini terjadi bukan karena yang berpendidikan rendah lebih beruntung, tetapi karena mereka menerima apa saja di sektor informal. Di luar itu, masih ada 19,44% pemuda NEET: tidak sekolah, tidak bekerja, tidak dilatih. Dalam statistik mereka tetap "usia produktif", tetapi tidak memproduksi dan tidak menabung apa pun.
Empat lapis beban di pundak yang muda
Penuaan kerap diringkas jadi "penduduk kita menua". Yang lebih genting adalah beban yang ditumpuk ke pundak generasi muda: empat lapis sekaligus. Pertama, mereka sulit masuk kerja layak. Kedua, kalaupun bekerja, dua dari tiga pekerja belum terlindungi BPJS Ketenagakerjaan (peserta aktif 47,26 juta dari 147,67 juta pekerja). Ketiga, menanggung orang tua yang tidak berpensiun. Keempat, mereka juga harus menabung untuk hari tuanya sendiri, dengan rata-rata upah buruh Rp 3,29 juta sebulan. Sebagai catatan, kohort usia 15–24 tahun pada 2025 berjumlah 44,3 juta orang. Pada 2045 mendatang, mereka akan berusia 35–44 tahun dan menjadi kelompok penopang negara saat lansia menembus 65 juta.
Menua sebelum sistem pensiunnya jadi
Penduduk lanjut usia atawa lansia juga memiliki masalah tersendiri. Sumber utama penghasilan lansia hari ini adalah keluarga 48,56% dan bekerja 37,72%. Sementara uang pensiun hanya 8,82%, jaminan atau bantuan sosial 2,42%, dan tabungan serta investasi cuma 1,13%. Artinya 86,28% lansia hidup dari belas kasih keluarga atau dari keringatnya sendiri. Sakernas menunjukkan 55,32% lansia masih aktif secara ekonomi. Lebih dari 84% lansia bekerja di sektor informal dan berpendapatan rata-rata Rp 2,07 juta per bulan. Namun, partisipasi kerja setinggi itu bukan tanda produktivitas, melainkan tanda mereka belum boleh berhenti.
Bonus kedua bukan hadiah
Kita sering menghibur diri dengan gagasan bonus demografi kedua; yakni ketika kelompok usia matang menumpuk aset dan tabungannya mengalir jadi investasi. Dengan skenario ini, pertumbuhan tetap terjaga meski penduduk menua. Konsepnya valid, tetapi syarat tabungan dan angka yang cuma 1,13% tadi menunjukkan syarat itu jauh dari terpenuhi. Silver economy pun ditawarkan sebagai jalan keluar dan potensinya nyata: pada 2045 akan ada sekitar 65,6 juta penduduk 60 tahun ke atas atau satu dari lima orang Indonesia. Mereka adalah pasar besar untuk kesehatan, perawatan jangka panjang, hunian, dan produk keuangan. Tetapi, generasi perak hanya menjadi pasar bila punya daya beli. Tanpa pensiun dan tabungan, 65 juta lansia bukan segmen konsumen, melainkan tagihan fiskal.
Yang tidak bisa ditunda
Sejak hari ini, sisa jendela tinggal sekitar 15 tahun untuk tiga pekerjaan rumah, yakni memperluas kerja formal, menyambungkan vokasi dengan pasar kerja, dan memperluas kepesertaan pensiun bagi pekerja informal dan pekerja platform. Kita pernah memperbaiki hal sulit: angka kematian ibu turun dari 346 ke 144 sejak 2010. Bedanya, kesehatan ibu selalu memberi kesempatan kedua; jendela demografi terbuka sekali. Lagu itu benar pada satu hal: it's our moment. Tapi, ada yang tidak dinyanyikan: momen mempunyai batas waktu. Emas 2045 bukan hadiah ulang tahun yang datang sendiri. Ia hanya ada bila hari ini, di usia 81, kita memutuskan menabungnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News