Google masuk ke bisnis energi terbarukan



NEW YORK. Google Inc. nekat berekspansi ke bisnis non-inti, yaitu sektor energi. Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) ini menginvestasikan duit lebih dari US$ 1,8 miliar untuk proyek-proyek energi baru dan terbarukan, seperti "peternakan" angin dan tenaga surya di tiga benua.

Salah satu proyek energi baru dan terbarukan itu adalah pembangkit listrik tenaga surya SolarCity di San Francisco, AS. Google bakal membenamkan dana senilai US$ 300 juta untuk memasang panel surya di 25.000 unit rumah. SolarCity tidak akan mengutip biaya untuk memasang instalasi tenaga surya di atap rumah-rumah penduduk. Penduduk hanya membayar ongkos bulanan pemakaian tenaga surya tersebut.

"Kami senang mendukung misi SolarCity untuk menolong rumahtangga di AS menurunkan emisi karbon dan biaya energi," ujar Siddharth Mundra, Renewable Energy Principal Google, mengutip The Washington Post.


Uniknya, harga saham SolarCity tergelincir 0,3% menjadi US$ 52,10 di bursa saham New York. Sedangkan harga saham Google malah naik 2,1%. Kamis (26/2) lalu, harga saham Google diperdagangkan di level US$ 555,48. Tak cuma di SolarCity, Google juga akan menginvestasikan dana senilai US$ 188 juta untuk proyek tenaga surya di Utah, As. Proyek tersebut dibangun oleh Scatec Surya ASA. Dari semua proyek energi baru dan terbarukan tersebut, Google berpeluang mengantongi imbal hasil sebesar 8%.

"Mudah-mudahan ini akan menyebabkan perusahaan-perusahaan lain berinvestasi dalam energi terbarukan," ujar Lyndon Rive, Chief Executive Officer SolarCity, seperti dikutip Bloomberg.

Skema pendanaan

Kesepakatan ini mencerminkan keberhasilan perusahaan energi baru dan terbarukan untuk menggaet investor. Skema kerjasamanya melalui format lindung tunai ataupun pembagian dividen.

Awal pekan ini, First Solar Inc dan Sunpower Corp mengatakan akan membentuk yieldco, model bisnis yang menawarkan dividen kepada investor dari pendapatan peternakan angin dan matahari. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, investor yang tertarik berbisnis di energi bersih naik 16% menjadi US$ 310 miliar pada tahun lalu.

Tak hanya mendapatkan imbal hasil yang menarik, Google juga memperoleh insentif berupa pengurangan pajak, termasuk pinjaman 30% dari biaya terpasang sistem tenaga surya. Maklum, untuk perusahaan SolarCity yang tidak berorientasi kepada keuntungan, seringkali tidak mendapatkan pinjaman dari perbankan.

Menurut Rive, jenis investasi ini akan menarik minat investor untuk masuk ke proyek energi karena mengurangi biaya investasi yang dikeluarkan pengembang. Bagi Google, hal ini tentu saja cara yang baik untuk mengurangi tagihan pajak dan mendukung energi terbarukan. "Ini baik buat lingkungan, keluarga dan bisnis," pungkas Mundra.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie