KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melanjutkan kinerja positif di semester I-2026. Mengutip laporan keuangan 30 Juni 2026, GOTO mengantongi laba bersih Rp 607,49 miliar pada semester I-2026. Nilai ini berbalik dari rugi bersih Rp 580,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan kinerja ditopang pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 28,45%
year on year (yoy) menjadi Rp 10,99 triliun. Pendapatan jasa pengiriman berkontribusi sebesar Rp 3,2 triliun. Lalu, pendapatan imbalan jasa Rp 3,15 triliun. Kemudian, bisnis pinjaman melonjak 64,67% yoy menjadi Rp 2,7 triliun dan pendapatan imbalan jasa
e-commerce Rp 550,72 miliar.
"Kami mencetak laba bersih dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, melampaui angka Rp 1 triliun untuk pertama kalinya," ujar Direktur Utama GOTO Hans Patuwo, Rabu (29/7). Seiring kuatnya kinerja bisnis keuangan, GOTO menaikkan proyeksi EBITDA yang disesuaikan untuk segmen fintech menjadi Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun dari sebelumnya Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun. Sebaliknya, target EBITDA segmen
on demand services diturunkan menjadi Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun karena dampak kebijakan komisi baru. "Kami memperkirakan, kontribusi dari bisnis on-demand services akan berkurang, dan bisnis fintech memberikan kontribusi lebih besar," tandasnya. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, kinerja GOTO pada kuartal II-2026 menunjukkan eksekusi bisnis yang kuat, terutama dari sisi profitabilitas. “Ini kuartal kuat lain bagi GOTO, ditandai laba bersih dua kuartal berturut-turut, pertumbuhan pendapatan yang akseleratif, serta peningkatan profitabilitas yang signifikan,” tulisnya dalam riset yang dikutip Kontan, Kamis (30/7).
Baca Juga: Bitcoin Tertekan Sentimen Global, Diversifikasi Bisa Jadi Kunci Investasi Dari sisi segmen, bisnis fintech menjadi kontributor utama kinerja. Unit GoPay mencatatkan adjusted EBITDA sebesar Rp 481 miliar, melonjak 447% yoy dan untuk pertama kalinya melampaui kontribusi segmen
on-demand services. Pendapatan fintech naik 53% yoy menjadi Rp2,07 triliun, dengan core GTV tumbuh 91% yoy menjadi Rp157,3 triliun. Kinerja ini turut didukung oleh peningkatan jumlah pengguna aktif bertransaksi bulanan alias
monthly transacting users sebesar 29% yoy menjadi 28,8 juta pengguna. Perseroan menaikkan proyeksi EBITDA segmen fintech menjadi Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun. Sebaliknya, proyeksi EBITDA segmen
on-demand services diturunkan menjadi Rp1,4 triliun–Rp1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun, seiring dampak regulasi baru terkait batas komisi. “Manajemen meyakini kinerja fintech yang lebih kuat akan mampu mengompensasi tekanan profitabilitas dari bisnis
ride-hailing,” ujar Azis. Berdasarkan konsensus
Bloomberg, sebanyak 24 perusahaan sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham GOTO. Sementara itu, tujuh perusahaan sekuritas merekomendasikan h
old dan belum ada analis yang memberikan rekomendasi jual. Rata-rata target harga saham GOTO dalam konsensus Bloomberg berada di level Rp 80 per saham. Sejumlah analis memang masih mempertahankan pandangan positif terhadap saham GOTO. Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi
buy dengan target harga Rp 80 per saham.
Baca Juga: BEI Rebalancing Indeks SMC Liquid, Delapan Saham Jadi Penghuni Baru Simak Prospeknya Morgan Stanley merekomendasikan
equal weight dengan target Rp 79 per saham. Sementara itu, UOB Kay Hian Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas tetap memberikan rekomendasi
buy dengan target harga masing-masing Rp 78 dan Rp 70 per saham. Adapun Macquarie memberikan rekomendasi
outperform dengan target harga Rp 72 per saham.
Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Gani mengatakan, konsensus analis masih didominasi rekomendasi beli karena fundamental perseroan dinilai tetap solid. Di sisi lain, ruang penurunan harga saham juga dinilai semakin terbatas setelah saham bertahan di level Rp 50. "Konsensus analis sekarang memang masih condong ke buy, karena selain fundamental juga harga sudah di level Rp 50 per saham, risiko penurunan juga sangat rendah," ujar Gani, Selasa (28/7).
Ryan Winipta, analis Indo Premier Sekuritas memberikan penekanan kuat pada prospek profitabilitas GOTO. Indo Premier kembali menegaskan rekomendasi Buy dengan target harga Rp110 per saham, yang disokong oleh kenaikan EBITDA yang disesuaikan secara berkelanjutan. Ryan Winipta dalam risetnya menyoroti, laba bersih GOTO pada kuartal II 2026 mencapai Rp 349 miliar (naik dari Rp 258 miliar di kuartal I 2026). Sehingga pencapaian laba bersih semester I 2026 GOTO telah melampaui ekspektasi konsensus dengan mencapai 60% dari target setahun penuh. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News