GOTO Keluar dari Indeks MSCI, Simak Penjelasan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan mengeluarkan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari indeks MSCI Indonesia pada akhir Agustus 2026.

Saham GOTO sendiri masih bertahan di level Rp 50 per saham sejak pertengahan Mei 2026.  Menanggapi keputusan tersebut, Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny mengatakan, manajemen memahami keputusan MSCI menjadi kabar yang kurang menyenangkan bagi sebagian pemegang saham.

“Kami memperhatikan keputusan MSCI terkait eksklusi GoTo dari indeks sahamnya, dan kami menyadari bahwa ini merupakan kabar yang kurang menyenangkan bagi banyak pemegang saham kami,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (13/8).


Meski demikian, GOTO menilai keputusan MSCI tersebut bersifat teknis, menyusul harga saham yang berada di level Rp 50 dan rendahnya volume perdagangan. Jadi ukan disebabkan oleh kinerja perusahaan.

GOTO juga menyoroti kinerja keuangan yang terus membaik. Pada kuartal I 2026, perseroan untuk pertama kalinya membukukan laba bersih sebesar Rp171 miliar. Kemudian pada kuartal II 2026, laba bersih meningkat 47% menjadi Rp252 miliar.

Dengan demikian, sepanjang semester I 2026, GOTO telah membukukan laba bersih Rp423 miliar. “ Kinerja kami di kuartal kedua justru mencatatkan laba bersih dua kuartal berturut-turut, dengan laba bersih mencapai Rp252 miliar dan pendapatan bersih sebesar Rp5,7 triliun,” ujar Audrey, dalam keterangan resmi, Kamis (13/8). 

Baca Juga: Dolar Menguat, Harga Tembaga dan Logam Industri Tertekan

Selain itu, EBITDA Grup GOTO yang disesuaikan untuk pertama kalinya menembus Rp1 triliun. Perseroan pun tetap berada di jalur untuk mencapai pedoman kinerja tahunan dengan EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun.

Manajemen GOTO menyatakan akan terus menjalin komunikasi dengan MSCI mengingat peninjauan indeks dilakukan secara berkala. Perseroan juga menegaskan akan tetap berfokus pada pengelolaan bisnis dan penciptaan nilai bagi pemegang saham.

“Keputusan peninjauan indeks dilakukan secara berkala dan kami akan terus menjalin dialog aktif dengan MSCI. Sementara itu, kami akan tetap fokus mengelola bisnis untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham,” kata Audrey.

Analis juga menilai, keputusan MSCI lebih berkaitan dengan aspek teknis perdagangan dibandingkan fundamental GOTO. Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menjelaskan, penghapusan suatu saham dari indeks akan memicu penjualan oleh pengelola dana pasif yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan.

“Para pengelola dana pasif ini meramu portofolio saham yang berisi saham-saham yang ada di dalam indeks dengan bobot serupa. Kalau ada satu saham dikeluarkan/rebalance, maka passive fund juga harus melakukan hal yang sama,” ungkap Aditya.

Namun, menurut Aditya, aksi penjualan tersebut terjadi karena aturan indeks dan bukan mencerminkan kondisi fundamental perusahaan. “Untuk GOTO, ini lebih ke aspek teknis saja. Harga sudah Rp 50 selama tiga bulan dan orang susah jual beli dengan likuiditas perdagangan jadi kering,” tambahnya.

Berdasarkan data perdagangan historis, sebelum harga GOTO menyentuh Rp 50, rata-rata nilai perdagangan saham GOTO di pasar reguler mencapai sekitar Rp 300 miliar-Rp 400 miliar per hari.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, rata-rata nilai perdagangan tersebut turun di bawah Rp50 miliar per hari. Bahkan belakangan hanya berada di kisaran Rp3 miliar per hari.

Aditya menilai, keluarnya GOTO dari indeks global juga tidak serta-merta membuat seluruh investor melepas saham tersebut. Pasalnya, investor GOTO terdiri dari berbagai kelompok, mulai dari investor strategis, investor ritel hingga investor aktif yang melakukan akumulasi ketika harga saham dinilai sudah murah.

Dengan demikian, keputusan MSCI dinilai tidak banyak memengaruhi strategi investor yang tidak menggunakan indeks global sebagai acuan. Apalagi sejumlah indeks saham domestik seperti IDX30, LQ45 dan IDX80 masih mempertahankan GOTO sebagai konstituen.

“Artinya local fund seperti reksadana, dana pensiun hingga asuransi yang menggunakan indeks IDX30, LQ45 dan IDX80 masih bisa stay di GOTO. AUM mereka banyak yang besar, jadi ketika GOTO dikeluarkan dari indeks global tidak berarti semua investor jualan,” kata Aditya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News