KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pembibitan unggas menegaskan perannya sebagai tulang punggung rantai pasok perunggasan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan protein hewani dan tantangan industri yang semakin kompleks. Penguatan sektor hulu dinilai menjadi faktor penentu keberlanjutan produksi ayam dan telur sekaligus daya saing industri perunggasan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan besarnya peran sektor ini. Pada 2024, populasi ayam ras pedaging mencapai lebih dari 3,2 miliar ekor per tahun, sedangkan populasi ayam ras petelur sekitar 390 juta ekor.
Baca Juga: Peningkatan Skill Pekerja Menjadi Kunci Daya Saing Industri Produksi daging ayam nasional telah melampaui 4 juta ton per tahun, sementara produksi telur ayam ras mencapai lebih dari 6,5 juta ton per tahun. Capaian tersebut menjadikan perunggasan sebagai penyedia protein hewani terbesar di Indonesia. Di balik tingginya produksi tersebut, sektor pembibitan memegang peran penting sebagai fondasi seluruh rantai produksi. Pembibitan tidak hanya menghasilkan
Day Old Chick (DOC), tetapi juga menentukan kualitas genetik, produktivitas, efisiensi usaha, ketahanan terhadap penyakit, hingga keberlanjutan industri. Ketua Umum GPPU periode 2022–2026 Achmad Dawami mengatakan, industri pembibitan kini dituntut terus bertransformasi melalui penerapan teknologi genetika, digitalisasi manajemen breeding, penguatan biosekuriti, serta penerapan prinsip keberlanjutan dan kesejahteraan hewan. "Ketika sektor hulu kuat, seluruh rantai industri akan tumbuh lebih sehat dan berdaya saing," ujarnya dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026). Menurutnya, kemampuan perusahaan pembibitan berinovasi akan menentukan keberhasilan industri perunggasan nasional dalam memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menghadapi persaingan global.
Baca Juga: Isu Relokasi Ancam Daya Saing Industri Otomotif Komitmen memperkuat sektor hulu itu menjadi salah satu fokus dalam Kongres XIV Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) yang mengusung tema "Pembibitan Sebagai Arsitek Industri Perunggasan Nasional". Forum tersebut juga membahas berbagai strategi untuk meningkatkan daya saing industri, mulai dari transformasi pembibitan, penguatan biosekuriti, digitalisasi breeding, hingga arah kebijakan menuju industri perunggasan yang modern dan berkelanjutan. Pembahasan tersebut dinilai penting mengingat tantangan industri tidak hanya berasal dari fluktuasi ekonomi global, tetapi juga risiko penyakit hewan, tuntutan efisiensi produksi, serta kebutuhan menjaga pasokan protein hewani nasional secara berkelanjutan. Sebagai bagian dari kongres, GPPU juga meluncurkan buku Dari Hulu untuk Ketahanan Pangan: Perjalanan 55 Tahun GPPU dalam Membangun Keberlanjutan Industri Perunggasan Indonesia. Buku ini mendokumentasikan perjalanan organisasi sejak berdiri pada 1970, termasuk berbagai tonggak perkembangan industri pembibitan, dinamika kebijakan, tantangan penyakit hewan, hingga inovasi yang membentuk industri perunggasan nasional. Pada agenda organisasi, Kongres XIV GPPU secara musyawarah mufakat memilih Asrokh Nawawi sebagai Ketua Umum GPPU periode 2026–2030.
Baca Juga: PALMEX Jakarta 2026 Digelar, Dorong Inovasi dan Daya Saing Industri Sawit Ia menilai tantangan industri perunggasan ke depan akan semakin besar sehingga diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan. Pengurus GPPU periode 2026–2030 kemudian dikukuhkan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, disaksikan para anggota GPPU, asosiasi perunggasan, akademisi, dan pelaku industri dalam rangkaian Kongres XIV yang berlangsung di DoubleTree by Hilton Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, pada 22–23 Juli 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News