KONTAN.CO.ID - Grab memilih mengubah pendekatan bisnisnya di tengah tekanan ekonomi global yang membuat masyarakat semakin berhati-hati membelanjakan uang. Salah satu pemimpin pasar transportasi online Asia ini semakin berani menghadirkan berbagai layanan berbiaya lebih rendah, mulai dari tarif Saver hingga sistem bundling pesanan. Hasilnya bisa dibilang berhasil. Grab bahkan berani menaikkan proyeksi pendapatan dan laba sepanjang 2026.
Perusahaan yang berkantor pusat di Singapura itu juga meluncurkan program pembelian kembali (
buyback) saham senilai US$750 juta, atau sekitar Rp13,5 triliun.
Baca Juga: 1.367 Bitcoin Raib dari Ribuan Dompet Coldcard, Kerugian Tembus Rp 1,6 Triliun Tarif Saver dan Bundling Pesanan Jadi Senjata
Mengutip
Reuters, perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu alasan utama Grab menghadirkan layanan dengan harga yang lebih kompetitif. Melalui fitur Saver, pelanggan dapat menikmati tarif yang lebih murah dibandingkan layanan reguler. Sebagai gantinya, waktu tunggu untuk mendapatkan pengemudi atau menerima pesanan bisa sedikit lebih lama. Grab menilai model seperti ini semakin diminati karena banyak pelanggan kini lebih mengutamakan efisiensi pengeluaran dibandingkan kecepatan layanan. Grab juga memperluas penggunaan fitur order
bundling, yakni sistem yang menggabungkan beberapa pesanan dalam satu perjalanan pengiriman. Di sisi lain, pelanggan juga memperoleh ongkos kirim yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas layanan secara signifikan.
Baca Juga: TikTok Capai Kesepakatan Damai dalam Gugatan Dampak Media Sosial pada Remaja Jumlah Pengguna dan Transaksi Terus Bertambah
Strategi menghadirkan layanan yang lebih hemat ikut mendorong peningkatan aktivitas pengguna sepanjang kuartal II 2026. Grab mencatat nilai transaksi bruto (
gross merchandise value/GMV) dari bisnis mobilitas dan pengiriman mencapai US$6,5 miliar, atau sekitar Rp117 triliun, naik 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Saat ini, Grab melayani sekitar 54 juta pengguna di lebih dari 900 kota di Asia Tenggara. Grab juga menggelontorkan insentif sebesar US$706 juta atau sekitar Rp12,7 triliun bagi pelanggan dan mitra pengemudi selama kuartal kedua. Dari jumlah tersebut, lebih dari US$7 juta atau sekitar Rp126 miliar dialokasikan untuk membantu pendapatan pengemudi yang terdampak kenaikan harga bahan bakar.
Baca Juga: Grab Revisi Naik Target Pendapatan 2026, Buyback Saham US$ 750 Juta Percaya Diri Sambut Paruh Kedua 2026
Grab kini memperkirakan pendapatan sepanjang 2026 berada di kisaran US$4,10 miliar hingga US$4,15 miliar, atau sekitar Rp73,8 triliun hingga Rp74,7 triliun, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya. Target
adjusted EBITDA juga dinaikkan menjadi US$720 juta hingga US$740 juta, mencerminkan keyakinan perusahaan bahwa strategi efisiensi dan diversifikasi bisnis mulai menghasilkan dampak nyata. Pada kuartal II 2026, Grab membukukan pendapatan sebesar US$997 juta, setara sekitar Rp17,95 triliun, atau meningkat 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Inflasi Korea Selatan Turun ke 2,8% pada Juli 2026, di Bawah Ekspektasi Pasar