Grail Ganti CEO: Bob Ragusa Pensiun, Josh Ofman Resmi Jadi Suksesor



KONTAN.CO.ID - Perusahaan pengembang tes kanker, Grail, mengumumkan perubahan penting di jajaran pimpinan. Chief Executive Officer (CEO) Bob Ragusa akan pensiun mulai 1 Juni mendatang.

Selanjutnya, posisi tersebut akan diambil alih oleh presiden perusahaan saat ini, Josh Ofman.

Pergantian kepemimpinan ini terjadi di tengah fase penting bagi Grail, terutama setelah hasil uji klinis terbaru dari produk andalan mereka menimbulkan sejumlah pertanyaan terkait prospek komersialnya.


Baca Juga: Denda Rp40 T Mengancam Karir Crispin Odey, Investor Legendaris Inggris

Akhir Jabatan CEO Bob Ragusa

Melansir Reuters, Bob Ragusa telah menjabat sebagai CEO Grail sejak 2021.

Selama masa kepemimpinannya, ia mengawasi proses transformasi perusahaan menjadi entitas independen.

Langkah tersebut terjadi setelah Grail dipisahkan dari perusahaan pengurutan gen Illumina, yang sebelumnya menjadi induk perusahaan.

Proses pemisahan ini menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan bisnis Grail di sektor deteksi kanker berbasis teknologi genomik.

Ragusa tidak langsung meninggalkan perusahaan sepenuhnya. Grail menyatakan bahwa ia akan tetap menjadi anggota dewan direksi hingga tanggal pensiunnya tersebut.

Selain itu, Ragusa juga diperkirakan masih akan berperan sebagai penasihat senior bagi perusahaan hingga Maret 2027.

Baca Juga: Miliarder Tilman Fertitta Tawar Caesars US$7 Miliar, Kalahkan Carl Icahn

Josh Ofman Naik Jadi CEO Baru

Grail menunjuk Josh Ofman, yang saat ini menjabat sebagai presiden perusahaan, sebagai penerus Ragusa.

Ofman sebelumnya pernah memegang sejumlah posisi senior di perusahaan bioteknologi besar, termasuk di Amgen, serta di berbagai organisasi layanan kesehatan lainnya.

Dalam perannya di Grail, Ofman disebut memiliki kontribusi besar dalam pengembangan produk utama perusahaan, yakni tes deteksi kanker bernama Galleri.

Tes ini dirancang untuk mendeteksi berbagai jenis kanker melalui analisis sampel darah.

Bulan lalu, perusahaan mengungkapkan bahwa penggunaan Galleri sebagai alat skrining rutin tidak memberikan peningkatan signifikan dalam deteksi kanker tahap awal.

Selain itu, tes tersebut juga tidak berhasil secara nyata menurunkan jumlah diagnosis kanker pada stadium lanjut.

Temuan tersebut berasal dari uji klinis penting selama tiga tahun yang dilakukan di Inggris melalui program layanan kesehatan nasional setempat.

Hasil ini memunculkan keraguan mengenai potensi komersial dari teknologi tersebut, yang sebelumnya digadang-gadang dapat menjadi terobosan dalam deteksi kanker multi-jenis.

Baca Juga: CEO West Pharmaceutical Eric Green Umumkan Pensiun, Ini Rencana Transisinya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News