GREN minta restu pemegang saham hari ini



JAKARTA. Nasib salah satu aksi korporasi yang cukup menyita perhatian pasar modal domestik akan ditentukan hari ini, Rabu (8/3). Jika tak ada aral melintang, PT Evergreen Invesco Tbk (GREN) akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) dengan agenda meminta restu pemegang saham untuk menggelar rights issue.

Emiten yang semula memiliki bisnis utama sebagai produsen benang itu berencana menerbitkan 50 miliar saham baru. Rencana ini telah berubah dari sebelumnya akan menerbitkan 150 miliar saham baru.

Kemarin, harga saham GREN ditutup di Rp 194. Bila harga rights issue ditetapkan sama dengan harga pasar, artinya GREN berpotensi meraup dana Rp 9,7 triliun. Tapi, emiten ini menyebut target perolehan dananya tidak berubah, yakni Rp 30 triliun.


Emiten ini berkali-kali merilis tambahan informasi terkait rights issue ini. Namun, hal ini belum cukup meyakinkan investor untuk mengeksekusi haknya. Maklum, efek dilusi atas aksi korporasi ini sangat besar, yakni 91,42%.

Jika pemegang saham tak mengeksekusi haknya, GREN akan menyiapkan pihak ketiga sebagai pembeli siaga. Hingga kini, manajemen enggan merinci siapa yang akan menjadi pembeli siaga.

Belakangan, nama pengusaha Erick Thohir dan AJB Bumiputera (AJBB) dikaitkan dengan aksi ini. Erick bakal masuk ke AJBB yang saat ini masih dalam proses restrukturisasi melalui GREN.

Manajemen GREN enggan menjawab permintaan konfirmasi KONTAN, kemarin. Wiwi Novianti, Sekretaris Perusahaan GREN, tak merespons pesan singkat maupun telepon dari KONTAN.

Analis menilai, sekarang adalah eranya keterbukaan informasi. Apalagi ini perusahaan publik. "Jadi, investor wajib sangat berhati-hati jika ingin ambil bagian dari aksi korporasi ini," ujar analis Binaartha Parama Sekuritas, Reza Priyambada, Selasa (7/3).

Kinerja GREN belakangan ini memang tertekan. Emiten ini menggelar rights issue untuk beralih lini bisnis. Secara finansial, lanjut Reza, rights issue bisa memperbaiki kinerja dan utang, meski ada konsekuensi terjadi perubahan pemegang saham. "Tapi harus dilihat prospek bisnis dan risiko atas tujuan bisnis barunya itu," jelas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie