Grup Djarum Makin Solid, Ini 3 Sektor Andalan Penopang Kinerja



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten yang terafiliasi dengan Djarum mencatatkan kinerja yang bervariasi di sepanjang 2025. Di sektor infrastruktur telekomunikasi, misalnya, kompak mencetak kinerja positif.

Ini tercermin dari pertumbuhan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yang berhasil meraup pendapatan sebesar Rp 13,32 triliun. Ini tumbuh 4,65% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 12,73 triliun.

Dari sisi bottom line, laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk TOWR sepanjang 2025 mencapai Rp 3,67 triliun. Raihan ini tumbuh 10,28% secara tahunan dari Rp 3,33 triliun.


Kinerja entitas usaha TOWR juga ikut merekah. Seperti, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) yang laba bersihnya berhasil tumbuh 35,94% secara tahunan dari Rp 974,31 miliar menjadi Rp 1,34 triliun di 2025.

Sepanjang 2025, SUPR berhasil meraup pendapatan sebesar Rp 1,91 triliun. Angka tersebut meningkat 5,13% secara tahunan dari perolehan di 2024 yang mencapai Rp 1,81 triliun.

PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) menjadi entitas usaha yang menunjukkan perbaikan signifikan. Di mana, IBST berhasil membalikkan rugi bersih Rp 1,85 triliun menjadi laba bersih Rp 411,44 miliar di 2025.

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Beragam di 2025, Simak Prospek Sahamnya

Secara top line, pendapatan IBST hanya tumbuh 1,09% secara tahunan menjadi Rp 871,89 miliar. Namun IBST berhasil menekan jumlah pokok pendapatan hingga 51,18% secara tahunan menjadi Rp 242,94 miliar.

Dari sektor kesehatan, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) meraup pendapatan bersih Rp 7,13 triliun yang tumbuh 6,19% secara tahunan dari Rp 6,71 triliun.

Namun dari sisi bottom line, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk HEAL menyusut 19,85% secara tahunan dari Rp 535,94 miliar menjadi Rp 429,54 miliar.

Dari lini teknologi, kinerja PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) alias Blibli juga terus menunjukkan perbaikan. Pendapatan bersih BELI melonjak 33,77% YoY menjadi Rp 22,38 triliun di 2025.

Namun jumlah perusahaan terafiliasi dengan Djarum ini nantinya akan menyusut di Bursa Efek Indonesia. Yakni, SUPR berencana untuk go private dan melakukan voluntary delisting.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna menjelaskan rencana tersebut telah dilaksanakan berdasarkan evaluasi secara menyeluruh oleh manajemen atas strategi jangka panjang.

Selain itu, rencana go private ini juga merupakan bagian dari strategi Grup Protelindo dalam pengelolaan aset dan kegiatan operasional yang lebih efisien, termasuk melalui restrukturisasi kepemilikan saham dalam Grup Protelindo.

“Dalam kaitannya dengan ketentuan baru terkait dengan free float, kami menegaskan BEI hadir secara aktif dalam memberikan pendampingan kepada emiten,” jelasnya, Selasa (7/4).

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus bilang Djarum memiliki diversifikasi bisnis yang kuat dan tersebar di berbagai sektor strategis.

Namun dari gurita bisnis Djarum yang tercatat di pasar modal, Nico menilai sektor infrastruktur, perbankan, serta consumer goods atau ritel masih menjadi penopang utama kinerja grup tersebut ke depan.

Dari sisi perbankan, kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap solid meskipun pertumbuhannya tidak seagresif bank-bank besar lain seperti PT Bank Mandiri Tbk maupun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Baca Juga: Naik 26,9%, Penerbitan Obligasi Korporasi Kuartal I-2026 Capai Rp 59,35 Triliun

“Ini karena pendekatan BCA yang cenderung lebih konservatif dalam penyaluran kredit, tetapi strategi tersebut justru mencerminkan kualitas fundamental yang kuat dan manajemen risiko yang baik,” kata Nico kepada Kontan.

Di sisi lain, dia menilai tidak semua sektor memiliki daya tarik yang sama di mata investor. Misalnya, Blibli, nampaknya e-commerce itu belum menjadi pilihan utama bagi masyarakat.

Terkait rencana delisting SUPR, Nico enggan berkomentar banyak. Namun dari semua emiten yang terafiliasi Djarum, dia menjagokan saham BBCA dengan target harga di Rp 9.800 dan TOWR.

Senior Market Analyst Mirae Asset Nafan Aji Gusta secara teknikal merekomendasikan investor untuk wait and see pada saham TOWR, HEAL, dan BELI. Sementara untuk IBST, dia tak memberikan saran apa pun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News