Grup Kalla masuk industri hilir sapi



JAKARTA. Setelah masuk ke berbagai bisnis seperti transportasi, infrastruktur, hotel, energi dan properti, Grup Kalla melebarkan usahanya ke sektor agri bisnis dengan membangun pabrik pengolahan kakao. Lewat bendera PT Kalla Kakao Industri, kelompok usaha yang paling menonjol di kawasan Indonesia Timur ini membangun pabrik pengolahan kakao di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Pabrik dengan kapasitas giling 35.000 ton biji kakao per tahun ditargetkan beroperasi pada Desember 2013. Pabrik ini akan menghasilkan beberapa produk olahan seperti bubuk cokelat, cokelat cake dan butter.

"Investasi yang kami butuhkan untuk mengoperasionalkan pabrik mencapai Rp 350 miliar," kata Ahmad Zaky, Direktur Utama PT Kalla Kakao Industri. Awalnya, produksi pabrik pengolahan kakao ini baru sekitar 2.000 ton per bulan atau sekitar 24.000 ton per tahun. Namun, tiga tahun kemudian, diharapkan pabrik baru ini sudah bisa beroperasi dalam kapasitas penuh atau full capacity. Pada tahap itu, kapasitas giling pabrik Kalla Kakao Industri menjadi 70.000 ton per tahun.


Sasaran utama pasar kakao olahan produksi KKI ini adalah ekspor. Zaky bilang, sekitar 80%-90% dari produksi olahan kakao KKI dijual ke luar negeri dan sisanya untuk pasar dalam negeri.

Beberapa perusahaan di Turki, Australia, Belanda menurut Zaky, sudah menyatakan minatnya untuk membeli produk kakao olahan milik Grup Kalla. Selain itu juga, beberapa perusahaan seperti Godiva, Nestle, Kraff dan Mars juga tertarik untuk mendapatkan pasokan bubuk cokelat dari pabrik tersebut.

Produk kakao olahan yang diproduksi KKI nantinya akan menggunakan merek sendiri. Kakao olahan tersebut, nantinya akan dikemas dalam kantung-kantung berukuran yang tidak terlalu besar yakni 30 kilogram (kg)-50 kg. Sayang, Zaky masih enggan menyebut kisaran harga dari produk tersebut.

Pasar terbuka lebar

Ceruk pasar untuk kakao olahan yang masih terbuka lebar membuat Grup Kalla tertarik menjajal bisnis ini. Sebagai produsen biji kakao nomor tiga di dunia, pihaknya tak bakal kesulitan untuk mendapatkan bahan baku. "Suplai biji lokal masih dari petani setempat," kata Zaky.

Sekedar catatan, bisnis hilir kakao makin manis setelah pemerintah memberlakukan bea keluar (BK) kakao sejak 2010 lalu. Petani lebih memilih untuk menjual kakao ke industri pengolahan di dalam negeri ketimbang menerbangkan biji cokelat tersebut ke negara lain.

Sindra Wijaya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) mengatakan, produksi kakao olahan dalam negeri tiap tahunnya terus meningkat. Bahkan, Indonesia berpotensi menjadi eksportir kakao olahan nomor satu di dunia.

Di negara kincir angin tersebut produksi produk olahan kakao telah mencapai diatas 500.000 ton per tahun. "Padahal kita memproyeksikan, produksi olahan kakao tahun 2015 akan mencapai 600.000 ton," kata Sindra.

Di satu sisi, BK membawa angin segar untuk industri pengolahan. Namun, kebijakan tersebut juga menyebabkan ekspor kakao terus menurun dalam tiga tahun ini. Zulhefi Sikumbang, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) mengatakan banyak eksportir yang gulung tikar dan beralih ke usaha lainnya. "Dua tahun lalu ada 60 eksportir sekarang hanya tinggal segelintir," katanya.

Menurut Zulhefi, tumbuhnya industri pengolahan akan memicu impor kakao. Sebab, kebutuhan domestik tak dibarengi dengan produksi kakao. Bukannya bertambah, produksi kakao masih stagnan dari tahun ke tahun. n

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Fitri Arifenie