KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Agustus 2026 mencapai sekitar US$ 146 miliar. Posisi tersebut meningkat tipis dibandingkan dengan cadangan devisa pada akhir Juli 2026 yang tercatat sebesar US$ 145,3 miliar. "Cadev kita posisi akhir Agustus kemarin US$ 146 miliar," ujar Destry dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Tok! Purbaya Bebaskan Pajak Bunga SBN Valas Domestik hingga Akhir 2026 Meski demikian, Destry belum memerinci faktor yang mendorong peningkatan cadangan devisa tersebut. Menurut Destry, posisi cadangan devisa Indonesia masih cukup terjaga, salah satunya ditopang oleh arus modal masuk (
inflow) dari investasi portofolio. Arus dana tersebut terjadi setelah adanya
repricing atau penyesuaian harga pada sejumlah instrumen investasi, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). "Kita beruntung masih ada. Kalau kita lihat dana portofolio dengan adanya repricing, jadi adjustment harga yang dilakukan, termasuk SBN, yield-nya melakukan penyesuaian, SRBI juga melakukan penyesuaian," katanya. Destry menyebut arus dana asing yang masuk ke kedua instrumen tersebut masih cukup besar. Secara kumulatif, inflow ke SBN dan SRBI telah mencapai sekitar US$ 10 miliar hingga US$ 11 miliar sepanjang tahun berjalan (
year to date/YTD).
Baca Juga: Pemerintah Diminta Siapkan Roadmap Jelas Sebelum Zero ODOL 2027, Begini Catatan Kadin Meski demikian, ia menilai masih terdapat pekerjaan rumah untuk mendorong aliran dana asing masuk ke pasar saham Indonesia. Di sisi lain, Destry menegaskan bahwa pemerintah dan BI tidak bisa hanya mengandalkan intervensi dalam skala besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pasalnya, intervensi yang terlalu besar berpotensi menggerus cadangan devisa. Karena itu, penguatan arus modal masuk menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga stabilitas eksternal dan nilai tukar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News