KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri karena alasan pribadi dan sudah mendapatkan persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto. Perry berkirim surat ke Presiden pada 25 Juli 2026. Ekonom Universitas Airlangga Surabaya Rahma Gafmi mengatakan, alasan mundurnya Perry kemungkinan karena
mendapatkan tekanan, salah satunya terkait permasalahn nilai tukad rupiah yang terus mengalami pelemahan. “Nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hebat hingga mendekati level Rp 17.600 hingga Rp 18.150 per dolar AS, yang memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas harga barang impor, beban utang luar negeri, dan daya beli masyarakat,” tutur Rahma dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/2026).
Baca Juga: BREAKING NEWS: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo Mengundurkan Diri Di sisi lain, Rahma bilang, situasi ekonomi semakin tertekan oleh faktor eksternal, termasuk dampak lanjutan dari konflik global dan perang Amerika Serikat danIran yang mengganggu rantai pasok energi termasuk di jalur Selat Hormuz, mendorong lonjakan harga minyak dunia, serta memperkuat dominasi dolar AS secara global. Atas permasalahan tersebut, kebijakan suku bunga dan instrumen stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia seperti operasi moneter, lelang repo, hingga intervensi pasar, mendapat sorotan tajam dan kritik dari parlemen karena dinilai belum cukup cepat atau optimal dalam meredam gejolak pelemahan rupiah di pasar keuangan. “Tekanan politik dari DPR menuntut adanya langkah pertanggungjawaban moral dari pimpinan tertinggi bank sentral atas berlanjutnya ketidakpastian makroekonomi domestik,” ungkapnya. Secara institusional,Undang-Undang Bank Indonesia telah dirancang untuk menjamin independensi bank sentral agar terhindar dari intervensi politik praktis dalam merumuskan kebijakan moneter. Lebih lanjut, ia mengatakan, pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo berpotensi memberikan dampak psikologis dan volatilitas jangka pendek pada market keuangan Indonesia, nilai tukar rupiah, IHSG, dan pasar SBN. Menurutnya, pengaruhnya terhadap kondisi market saat ini adalah pasar keuangan pada sesi perdagangan hari ini kemungkinan besar akan merespons berita ini dengan tingkat kehati-hatian (
wait and see) yang tinggi.
Baca Juga: Perry Warjiyo Mundur: Destry Damayanti Jadi Pejabat Gubernur Sementara BI “Pergantian pucuk pimpinan bank sentral di tengah tekanan ekonomi makro dan fluktuasi nilai tukar dapat memicu spekulasi pasar terhadap arah konsistensi bauran kebijakan moneter selanjutnya,” jelasnya. Rahma menambahkan, langkah cepat pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur krusial untuk meredam gejolak. Ia bilang, keberadaan sosok internal yang selama ini turut merumuskan kebijakan memberikan sinyal kontinuitas dan stabilitas institusional kepada investor domestik maupun asing namun tidak sepenuhnya bisa direspon positif market. Pelaku pasar akan terus mencerminkan reaksi mereka pada efektivitas langkah-langkah stabilisasi lanjutan yang diambil BI pasca-pengumuman ini, terutama dalam menjaga kepercayaan terhadap instrumen rupiah dan pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian global.
Sedangkan pada pasar global kata Dia, investor asing biasanya memantau ketat aspek kredibilitas dan kesinambungan kebijakan makroekonomi (
policy continuity).
Baca Juga: BI Andalkan Kepemimpinan Kolektif-Kolegial di Tengah Transisi Gubernur “Reaksi global akan sangat bergantung pada seberapa cepat pemerintah dan otoritas moneter mengomunikasikan stabilitas transisi ini guna memastikan bahwa komitmen pengendalian inflasi dan pertahanan nilai tukar rupiah tetap berjalan tanpa kompromi,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News