KONTAN.CO.ID - Gubernur bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) Stephen Miran menilai, kebijakan moneter saat ini terlalu ketat dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS). Berbicara dalam acara di Federal Reserve Bank of Dallas Miran mengatakan, risiko terbesar bagi perekonomian adalah kesalahan persepsi terhadap tingkat keketatan kebijakan suku bunga.
Baca Juga: Harga Rumah Baru China Kembali Turun pada Januari 2026, Tekan Pengembang Properti “Saya pikir risiko terbesar bagi ekonomi adalah kita salah memahami seberapa ketat kebijakan moneter saat ini,” ujarnya pada Kamis (12/2/2026). Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak melihat adanya masalah inflasi yang serius. Menurut Miran, inflasi komponen perumahan (shelter) yang sangat rendah dapat mengimbangi tekanan harga di sektor lain. “Selama saya tidak khawatir terhadap inflasi, masuk akal untuk terus menopang pasar tenaga kerja dengan kebijakan moneter yang lebih longgar, terutama ketika sisi penawaran tumbuh lebih cepat dari permintaan sehingga ekonomi bisa berkembang tanpa memicu inflasi,” katanya.
Baca Juga: Yen Menuju Kinerja Mingguan Terbaik dalam 15 Bulan Usai Kemenangan Takaichi Dorong Pemangkasan Suku Bunga Miran, yang sebelumnya menjabat sebagai penasihat ekonomi Gedung Putih sebelum ditunjuk menjadi gubernur The Fed, dikenal sebagai salah satu pendukung paling vokal pelonggaran kebijakan moneter. Tahun lalu, ia mendorong pemangkasan suku bunga yang lebih besar dibandingkan keputusan resmi bank sentral dalam tiga rapat kebijakan terakhir. Pada Januari, ia juga menjadi salah satu dari dua pejabat yang menolak keputusan mayoritas (10-2) untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%.
Baca Juga: Jepang Percepat Negosiasi dengan AS untuk Realisasi Paket Investasi US$550 Miliar Perbedaan Pandangan di Internal The Fed Pandangan Miran berbeda dengan Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, yang menjadi tuan rumah acara tersebut. Logan menilai kebijakan The Fed saat ini belum cukup menahan laju ekonomi dan lebih mengkhawatirkan inflasi yang masih bertahan tinggi dibandingkan kondisi pasar tenaga kerja.
Ia tidak menyampaikan komentar terbaru terkait prospek kebijakan pada kesempatan tersebut. Perbedaan pandangan ini mencerminkan dinamika internal di The Fed mengenai arah suku bunga ke depan, di tengah perdebatan apakah ekonomi AS membutuhkan pelonggaran lebih lanjut atau justru kewaspadaan terhadap tekanan harga yang masih membandel.