KONTAN.CO.ID - Saham perusahaan barang mewah asal Prancis, Kering, melonjak hingga 11,8% pada perdagangan Rabu (29/7/2026) setelah merek andalannya, Gucci, membukukan penjualan kuartalan yang lebih baik dari perkiraan analis. Kinerja tersebut memicu optimisme bahwa upaya transformasi yang dipimpin CEO Luca de Meo mulai menunjukkan hasil, meski sejumlah pesaing masih mencatatkan performa yang kurang menggembirakan.
Baca Juga: Pemilu Israel Digelar 27 Oktober 2026, Ini Peta Persaingan Netanyahu dan Penantangnya Mengutip
Reuters, saham Kering diperdagangkan di level 279,90 euro per saham pada pukul 08.00 GMT, dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Januari 2025. Penguatan saham didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap koleksi tas tangan baru Gucci di pasar Amerika Serikat, serta langkah konkret perusahaan dalam mengurangi utang di bawah kepemimpinan de Meo. Analis HSBC menaikkan rekomendasi saham Kering dari
hold menjadi
buy. Menurut mereka, perusahaan kini fokus pada prioritas yang tepat untuk memulihkan momentum bisnis, khususnya dengan kembali menarik minat konsumen kelas aspiratif melalui merek Gucci.
Baca Juga: BMW Pangkas Ribuan Karyawan di Jerman Lewat Program Pengunduran Diri Sukarela "Kami percaya grup ini berfokus pada prioritas yang tepat untuk mengembalikan momentum dan kembali menarik pelanggan aspiratif, terutama untuk merek Gucci," tulis analis HSBC dalam risetnya. Sementara itu, hasil kinerja para pesaing belum mampu membangkitkan optimisme investor terhadap industri barang mewah secara keseluruhan. LVMH, yang menjadi barometer sektor barang mewah global, hanya membukukan perbaikan penjualan yang relatif terbatas. Meski sahamnya sempat dibuka naik sekitar 3% pada Rabu setelah perdagangan yang bergejolak sehari sebelumnya, investor masih mempertanyakan apakah industri barang mewah senilai sekitar US$ 400 miliar benar-benar mulai pulih dari perlambatan yang berlangsung cukup lama. Keraguan tersebut tetap muncul meskipun belanja konsumen kaya di sektor teknologi Amerika Serikat meningkat dan permintaan terhadap perhiasan kembali menguat.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok Dua Hari Beruntun, Demam AI Berubah Jadi Aksi Jual Besar Di sisi lain, Hermès, produsen tas Birkin, melaporkan pertumbuhan penjualan organik yang hanya meningkat tipis. Laporan tersebut membuat saham Hermès turun lebih dari 4% pada perdagangan Rabu. Bagi Gucci, hasil kuartal kedua menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Pendapatan merek tersebut memang masih turun 2% secara organik dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi penurunan kuartalan ke-12 secara berturut-turut. Namun, hasil itu lebih baik dari proyeksi analis dan menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya. Gucci, yang selama bertahun-tahun menjadi mesin utama laba Kering namun belakangan menghadapi pelemahan permintaan, menargetkan kembali mencatat pertumbuhan penjualan sepanjang 2026 sebagai bagian dari strategi pemulihan grup. Dalam rencana transformasinya, Kering akan menutup sekitar 100 gerai hingga akhir tahun serta memangkas persediaan senilai 1 miliar euro dalam 12 bulan ke depan.
Pada April lalu, Luca de Meo menyatakan, ingin menjadikan Gucci sebagai organisasi yang sepenuhnya berorientasi pada pelanggan (
client-obsessed organization), dengan jumlah toko yang lebih sedikit namun memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap kebutuhan konsumen di berbagai wilayah.
Baca Juga: Bursa Singapura Pecahkan Rekor Saat Saham Teknologi Asia Dilanda Aksi Jual Meski demikian, de Meo mengingatkan bahwa pemulihan Gucci tidak akan berjalan secara linier. Ia memperkirakan kinerja pada kuartal ketiga masih cenderung datar (flattish), padahal sebelumnya banyak analis memperkirakan periode tersebut menjadi titik balik pertumbuhan merek tersebut. Analis RBC menilai, Gucci masih membutuhkan lonjakan penjualan yang kuat pada paruh kedua tahun ini agar target kembali mencatat pertumbuhan penjualan tahunan dapat tercapai.