KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gunung Anak Krakatau mengalami perubahan bentang alam setelah serangkaian erupsi pada awal September 2026. Badan Geologi mencatat luas daratan gunung api tersebut bertambah sekitar 32,8 hektare setelah aliran lava yang dihasilkan erupsi membentuk material baru. Berdasarkan keterangan Badan Geologi yang dikutip Reuters, pertambahan luas tersebut diketahui melalui perbandingan citra satelit Sentinel yang diambil pada 8 Agustus dan 15 September 2026. Selain bertambah luas, citra satelit juga menunjukkan adanya dua formasi daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Citra Sentinel pada 23 September memperlihatkan satu formasi baru yang berada sekitar 760 meter di sebelah barat laut garis pantai Anak Krakatau. Sementara itu, formasi lainnya terdeteksi sekitar 495 meter di sebelah tenggara gunung api tersebut.
Baca Juga: Ditjen Pajak Menyebar 454.377 Surat ke Wajib Pajak, Apa Isinya? Kedua formasi tersebut berada di sisi yang berlawanan dari kawah Anak Krakatau. Badan Geologi menyebut kemunculan keduanya kemungkinan berkaitan dengan aktivitas erupsi yang terjadi pada awal September. Namun, Badan Geologi menegaskan bahwa diperlukan data yang lebih baru serta analisis lebih lanjut untuk memastikan apakah kedua formasi tersebut merupakan pusat erupsi baru.
Erupsi Anak Krakatau Berlangsung 25 Jam
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi selama sekitar 25 jam, mulai 4 September hingga 6 September 2026. Dalam periode tersebut, aliran lava bergerak ke arah barat laut, barat, dan barat daya. Aktivitas erupsi tersebut kemudian memicu perubahan pada morfologi kawasan gunung api. Perubahan bentang alam Anak Krakatau menjadi perhatian karena gunung api tersebut berada di kawasan Selat Sunda dan terus mengalami aktivitas vulkanik sejak terbentuk dari sisa kawasan Gunung Krakatau.
Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan
Aktivitas erupsi Anak Krakatau juga berdampak terhadap transportasi udara. Abu vulkanik yang dihasilkan erupsi terbawa hingga wilayah Jakarta dan daerah sekitarnya. Sejumlah bandara sempat ditutup akibat penyebaran abu vulkanik. Gangguan tersebut berdampak terhadap lebih dari 340.000 penumpang. Secara keseluruhan, sebanyak 2.961 penerbangan dilaporkan mengalami pembatalan, keterlambatan, atau pengalihan akibat kondisi tersebut. Dampak terhadap penerbangan menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak hanya berpengaruh terhadap wilayah di sekitar gunung api, tetapi juga dapat mengganggu konektivitas udara di kawasan yang lebih luas.
Baca Juga: Tax Ratio Ditargetkan Tembus 9,26% di 2027, Bagaimana Mencapainya? Bagian dari Cincin Api Pasifik
Anak Krakatau merupakan salah satu dari sekitar 130 gunung api aktif yang berada di Indonesia. Wilayah Indonesia sendiri terletak di sepanjang Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), kawasan dengan aktivitas seismik tinggi akibat pertemuan berbagai lempeng kerak bumi.
Kondisi geologi tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan aktivitas gempa bumi dan gunung api yang tinggi. Nama Anak Krakatau berarti "anak dari Krakatau". Gunung api ini mulai muncul sekitar satu abad lalu dari kawasan yang sebelumnya ditempati Gunung Krakatau, yang juga dikenal dengan nama Krakatoa. Gunung Krakatau mengalami letusan besar pada 1883 yang menghancurkan sebagian besar tubuh gunung tersebut. Rangkaian erupsi dan tsunami yang menyertainya menewaskan lebih dari 36.000 orang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News