KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026). Sebelumnya, pada Sabtu (5/9/2026), Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga mengalami erupsi dan menyebabkan wilayah di sekitarnya terdampak abu vulkanik. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Semeru mengalami erupsi berupa letusan asap tebal setinggi 1.000 meter di atas puncak kawah, pada Minggu (6/9/2026).
"Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Minggu, 6 September 2026 pukul 07.51 WIB dengan tinggi kolom abu teramati 1.000 meter diatas puncak," kata petugas PPGA Semeru Sigit Rian Alfian, dalam keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).
Baca Juga: Transaksi E-Commerce Melesat, Pemerintah Diminta Perkuat Produk Lokal Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Insugroho mengatakan, erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimal 23 milimeter selama 1 menit 42 detik. "Berdasarkan keterangan dari rekan-rekan pos pantau, letusan abu mengarah ke timur," kata Isnugroho melalui sambungan telepon. Namun begitu, sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan mengenai dampak erupsi Semeru. Warga di sekitar lereng Gunung Semeru, kata Isnugroho, masih beraktivitas normal dan belum dilakukan upaya evakuasi. Isnugroho menambahkan, jika dilihat dari arah angin yang mengempaskan asap letusan Gunung Semeru, dampak hujan abu vulkanik berisiko terjadi di sekitar Kecamatan Pasrujambe dan Senduro. "Laporan dampak sementara nihil, belum ada laporan yang masuk, warga kondisinya aman, tapi kalau arah anginnya ke timur sepertinya hujan abu terjadi di sekitar Pasrujambe dan Senduro," kata Isnugroho.
Baca Juga: Atasi Dampak Erupsi Anak Krakatau, BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca Isnugroho menjelaskan, saat ini status aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada di level III atau Siaga. Menurutnya, intensitas letusan yang cukup tinggi berisiko terhadap terjadinya hujan abu di sekitar lereng Gunung Semeru. Selain itu, apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi, berisiko menyebabkan banjir lahar dengan membawa tumpukan material yang menumpuk di lereng gunung akibat letusan dan guguran yang terjadi selama ini. "Secara jumlah letusan memang masih tinggi, ini bisa memicu banjir lahar dengan membawa material cukup banyak apabila terjadi hujan deras di sekitar gunung," jelasnya. Isnugroho mengimbau warga untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak.
Di luar jarak tersebut, masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Terlebih, saat ini sekitar Gunung Semeru kerap diguyur hujan lebat yang berisiko menimbulkan banjir lahar. "Waspada terhadap potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru," imbaunya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News