Habis pada Mei 2026, Weda Bay Nickel Tunggu Tambahan Kuota Produksi dari Revisi RKAB



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kuota produksi PT Weda Bay Nickel (WBN) terpakai habis pada bulan ini. WBN harus menunggu tambahan kuota produksi melalui revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah diajukan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Chief Executive Officer (CEO) Eramet Indonesia, Jerome Baudelet mengungkapkan pada RKAB tahun ini, WBN hanya mendapatkan kuota produksi bijih nikel sekitar 12 juta wet metric tonne (wmt) ton. Pemerintah memangkas sekitar 70% kuota produksi WBN dibandingkan tahun lalu yang mencapai 42 juta wmt.

Jerome membeberkan sebelum mendapat persetujuan RKAB di awal tahun, Kementerian ESDM mempersilakan perusahaan untuk menambang dengan kuota 25% dari produksi tahun lalu. WBN pun mengoptimalkan kuota tersebut dengan memproduksi sekitar 10 juta wmt pada kuartal I-2026.


Ketika persetujuan RKAB dari Kementerian ESDM hanya sebesar 12 juta wmt, kuota WBN pun hanya cukup untuk memenuhi operasional produksi sampai bulan Mei. Setelah kuota habis, WBN akan menghentikan produksi tambang sementara untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan (care and maintenance).

WBN telah mengajukan tambahan kuota produksi kepada Kementerian ESDM. Tapi, Jerome tidak membuka berapa tambahan kuota yang diminta oleh WBN. Dia hanya menggambarkan bahwa WBN memiliki kemampuan dan kesiapan jika diberikan kuota produksi sebanyak 42 juta wmt seperti tahun lalu.

Baca Juga: Kementerian ESDM Pangkas RKAB Weda Bay Nickel Lebih dari 70%

"Mudah-mudahan kami bisa mendapatkan (revisi) RKAB secepat mungkin. Kami siap untuk memulai kembali (ketika) ada peningkatan produksi. Tentu kami ingin mendapatkan jauh lebih banyak (kuota produksi) dari 12 juta wmt," kata Jerome dalam media briefing yang digelar pada Rabu (20/5/2026).

Jerome menegaskan, Eramet memahami tujuan pemerintah memperketat kuota produksi dalam RKAB 2026. Bahkan, Jerome mengamini bahwa pengetatan produksi bijih nikel di Indonesia merupakan langkah penting untuk memangkas kelebihan pasokan (oversupply), yang telah menekan harga nikel global.

Sebagai produsen utama dengan kontribusi sekitar 65% terhadap pasokan nikel dunia, pengetatan produksi di Indonesia akan menjaga pasokan dan harga nikel. Selain pengetatan kuota produksi di RKAB, Jerome juga menyoroti kebijakan formula Harga Patokan Mineral (HPM) baru yang membawa angin segar bagi penambang.

Kedua kebijakan tersebut bisa turut menopang pergerakan harga nikel dunia pada tahun ini. "Situasinya berubah. Mempertimbangkan hal ini, harga minimum jauh lebih tinggi dari sebelumnya ditambah kontrol volume produksi, kami rasa tidak akan melihat harga yang kembali turun ke level tahun 2025," ujar Jerome.

Hanya saja, Jerome mengingatkan bahwa pengusaha nikel sedang menghadapi sejumlah tantangan, terutama bagi perusahaan yang bergerak di fasilitas pengolahan hilir. Pengusaha harus berhadapan dengan lonjakan harga bahan bakar, sulfur dan bahan baku utama.

Baca Juga: RKAB 2026 Tertahan, Eramet Masih Pantau Operasi Weda Bay Nickel

Oleh sebab itu, Jerome mengharapkan pemerintah bisa memberikan kepastian dari sisi regulasi demi menjaga stabilitas bisnis dan kelangsungan usaha. "Kami membuat rencana setiap tahun sampai tiga tahun, bahkan untuk 20 tahun ke depan. Kami perlu memprediksi berapa banyak yang akan dilakukan dan membandingkannya dengan perencanaan jangka panjang. Jadi, kami butuh stabilitas," tegas Jerome.

Sebagai informasi, Eramet Group merupakan salah satu pemegang saham WBN dengan porsi kepemilikan tidak langsung sebesar 38,7%. PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memiliki 10% saham WBN, dan sisanya dimiliki oleh Tsingshan Group.

Mengenai kepemilikan saham, Danantara dikabarkan berminat untuk mengakuisisi kepemilikan Eramet di WBN. CEO Danantara Rosan P. Roeslani menyatakan bahwa Badan Pengelola Investasi plat merah ini membuka peluang melakukan diskusi untuk aksi korporasi tersebut.

Jerome mengaku tidak dalam posisi untuk menanggapi kabar tersebut. Di sisi lain, Jerome membantah Eramet akan meninggalkan investasinya di Indonesia. Dia menegaskan, Eramet memandang WBN sebagai salah satu aset terpenting dan strategis dalam portofolio global. "Ketika mendengar Eramet akan keluar dari Indonesia, itu jelas bukan niat kami," tegas Jerome.

Eramet justru ingin mengeksplorasi peluang investasi jangka panjang di Indonesia. Oleh sebab itu, Eramet terus membuka komunikasi untuk memperkuat kolaborasi dengan mitra lokal. Dalam hal ini, Jerome menyatakan bahwa Danantara menjadi mitra penting dan strategis bagi Eramet.

"Kami menyadari, butuh mitra lokal yang kuat. Danantara adalah pilihan yang baik. Kami membawa keahlian pertambangan, dan Danantara pada dasarnya adalah perusahaan lokal yang dapat membantu kami bekerja lebih baik, dengan semua perusahaan pertambangan di bawah naungan mereka," tandas Jerome. 

Baca Juga: Satgas PKH Buka Opsi Penguasaan Negara jika Weda Bay Tak Bayar Denda

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News