KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan iklim, seperti ancaman el nino, menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian karena memicu cuaca yang semakin ekstrem, mulai dari suhu tinggi hingga kekeringan yang dapat menekan produktivitas tanaman. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan penerapan teknologi budidaya yang mampu menjaga pertumbuhan tanaman sekaligus meningkatkan hasil panen. Merespons kondisi ini, Syngenta Indonesia mempercepat adopsi inovasi pertanian melalui peluncuran biostimulan cuprinomat®, teknologi yang dirancang untuk membantu tanaman tumbuh lebih optimal, meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi, serta memperkuat ketahanan terhadap cekaman lingkungan.
Baca Juga: Pemerintah Siaga Hadapi El Nino, Jaga Pasokan Air dan Produksi Pangan Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, mengatakan peningkatan produktivitas pertanian tidak lagi cukup mengandalkan praktik budidaya konvensional. Menurutnya, petani membutuhkan teknologi yang mampu menjaga performa tanaman ketika menghadapi perubahan kondisi lingkungan. "Melalui cuprinomat®, kami menghadirkan solusi yang membantu tanaman tetap tumbuh optimal dalam berbagai kondisi, sehingga petani dapat memperoleh hasil yang lebih baik dan berkelanjutan," ujarnya dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026). Biostimulan merupakan teknologi yang bekerja mendukung proses fisiologis tanaman sehingga mampu memanfaatkan unsur hara secara lebih efisien, mempercepat pertumbuhan, serta meningkatkan toleransi terhadap cekaman abiotik, seperti panas, kekeringan, maupun kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Dengan kondisi tanaman yang lebih sehat, produktivitas dapat dipertahankan meski menghadapi tekanan iklim. Syngenta menjelaskan, cuprinomat® mengombinasikan asam amino, asam humat, asam fulvat, serta nutrisi mikro yang bekerja secara sinergis untuk memperkuat perkembangan akar, mengoptimalkan penyerapan nutrisi, menjaga metabolisme tanaman, dan mendukung pembentukan hasil panen yang lebih tinggi.
Baca Juga: Godzilla El Nino Mengancam Lumbung Pangan Penerapan teknologi seperti biostimulan dinilai semakin penting seiring meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem yang membuat produktivitas pertanian semakin rentan. Kemampuan tanaman bertahan terhadap stres lingkungan menjadi salah satu faktor yang menentukan stabilitas produksi sekaligus pendapatan petani. Selain menghadirkan inovasi produk, Syngenta juga menekankan pentingnya percepatan transfer teknologi kepada petani. Perusahaan menjalankan program edukasi melalui rangkaian "Perjalanan Pertumbuhan" yang menjangkau berbagai sentra pertanian di Indonesia. Dalam program tersebut, mobil aktivasi cuprinomat® menempuh perjalanan sejauh 5.108 kilometer, dimulai dari Medan dan melintasi Alahan Panjang, Lampung, Karawang, Indramayu, Grobogan, Jember, Lombok, Makassar, hingga berakhir di Sidrap. Selama perjalanan, Syngenta mengedukasi sekitar 500 petani mengenai penerapan teknologi biostimulan dalam budidaya tanaman. Program tersebut juga dilengkapi pembuktian langsung menggunakan spesimen tanaman yang dibawa sepanjang perjalanan. Tanaman mengalami berbagai perubahan kondisi lingkungan selama ribuan kilometer perjalanan sehingga menjadi media untuk mengamati efektivitas teknologi biostimulan.
Baca Juga: Inilah Perbedaan El Nino & Musim Kemarau, Cek Tips Hadapi Cuaca Panas 2026 Berdasarkan pengamatan selama rangkaian kegiatan, tanaman yang memperoleh perlakuan cuprinomat® menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan tanaman tanpa perlakuan.
Hasil serupa juga diperlihatkan melalui lahan demonstrasi di sejumlah lokasi yang dikunjungi selama program berlangsung. Grand Finale di Sidrap dihadiri sekitar 450 petani dan pemangku kepentingan sektor pertanian. Kegiatan tersebut menandai upaya Syngenta Indonesia mempercepat adopsi teknologi budidaya modern agar produktivitas pertanian dapat terus meningkat di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News