KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (
SMGR) atau SIG menghadapi tantangan kelebihan kapasitas industri semen yang membuat persaingan pasar semakin ketat. Untuk menjaga profitabilitas, SMGR mengandalkan penguatan tata kelola, efisiensi operasional, optimalisasi pasar domestik, serta ekspansi pasar ekspor. Penjualan semen domestik pada semester I-2026 mencapai 30,71 juta ton, tumbuh 10,5% secara tahunan. Namun, pertumbuhan permintaan tersebut belum sepenuhnya mengatasi persoalan oversupply yang masih membayangi industri semen.
Di tengah kondisi tersebut, volume penjualan SIG pada semester I-2026 mencapai 18,28 juta ton, tumbuh 5,6% yoy. Penjualan domestik naik 9,7%, sementara pendapatan meningkat 13,07% menjadi Rp17,64 triliun. Laba bersih bahkan melonjak 470,95% menjadi Rp228,25 miliar.
Baca Juga: Jobubu Jarum Minahasa (BEER) Fokus Ekspansi Pasar dan Inovasi Produk Direktur Utama Semen Indonesia Indrieffouny Indra mengatakan, penerapan tata kelola perusahaan menjadi salah satu fondasi untuk menjaga ketahanan bisnis dan profitabilitas perusahaan di tengah persaingan industri. "Praktik Good Corporate Governance (GCG) menjadi bagian penting untuk menjaga ketahanan bisnis dan profitabilitas SIG," dalam keterangannya, Senin (21/2026) Untuk mendukungnya, SIG memiliki Komite Keberlanjutan sejak 2021 dan menerapkan kerangka TCFD untuk mengelola risiko serta peluang perubahan iklim. SIG juga melakukan evaluasi GCG dengan mengacu pada ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) dan ketentuan OJK.
Selain tata kelola, SIG memperkuat efisiensi dan mencari sumber pertumbuhan baru. Salah satunya melalui penggunaan bahan bakar alternatif seperti refuse-derived fuel (RDF) untuk menggantikan sebagian penggunaan batubara.
Baca Juga: Upaya Semen Indonesia Tbk (SMGR) Ekspansi Pasar Ekspor SIG juga memperluas pasar ekspor. Fasilitas dermaga dan produksi di Tuban, Jawa Timur, memiliki kapasitas hingga 1 juta ton semen per tahun untuk mendukung ekspor. Strategi tersebut menjadi penting karena pertumbuhan permintaan domestik saja belum cukup untuk mengatasi tekanan kelebihan kapasitas. Bagi SIG, menjaga profitabilitas berarti tidak hanya meningkatkan volume penjualan, tetapi juga menekan biaya dan membuka pasar baru. Upaya tersebut turut mendapat pengakuan melalui Katadata ESG Insight (KESGI) Award 2026. SIG meraih penghargaan kategori Tata Kelola sektor Material Konstruksi karena dinilai menunjukkan kinerja dan inisiatif unggul pada pilar governance.
Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2026. Penilaian KESGI Award mengacu pada informasi dan dokumen ESG yang dipublikasikan perusahaan, mencakup aspek lingkungan, sosial, tata kelola, serta implementasi praktik keberlanjutan.
Baca Juga: Haloni Jane (HALO) Ekspansi Pasar, Ekspor Sarung Tangan Medis ke Brazil dan Austria Sebelumnya, pada 2025 SMGR juga memperoleh skor GCG 102,67 dengan predikat Leadership in Corporate Governance serta penghargaan Best State-Owned Enterprise dari The Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD).Q Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News