KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Produsen air minum dalam kemasan (AMDK) Crystalin menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kelancaran distribusi menjelang lebaran 2026.
Langkah ini dilakukan menyusul kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang membatasi operasional angkutan barang pada 13–29 Maret 2026 guna mendukung kelancaran arus mudik dan balik. Di saat bersamaan, pelaku usaha juga tengah menjalani masa uji coba dan penertiban kebijakan Zero ODOL (
Over Dimension Over Loading) yang berlangsung pada 27 Januari hingga 31 Mei 2026.
Baca Juga: Crystalin Pastikan Stok Aman dan Harga Air Minum Stabil di Tengah Bencana Managing Director Crystalin, Wijoyo Setionegoro, mengatakan periode ramadan dan lebaran merupakan momen dengan peningkatan permintaan di berbagai kategori produk. Karena itu, perusahaan telah melakukan perencanaan distribusi lebih awal dan memperkuat koordinasi dengan seluruh mitra logistik untuk mengantisipasi pembatasan operasional angkutan serta penyesuaian terhadap kebijakan ODOL. “Sejauh ini, langkah antisipatif yang kami lakukan memungkinkan kelancaran pengiriman dan ketersediaan produk tetap terjaga,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (20/2/2026). Untuk memastikan pasokan di pasar tetap stabil, Crystalin menerapkan strategi
buffer stock di sejumlah titik distribusi strategis. Selain itu, perusahaan juga menyesuaikan jadwal produksi dan distribusi lebih awal sebelum periode pembatasan berlaku guna meminimalkan potensi hambatan operasional. Terkait kebijakan Zero ODOL yang direncanakan berlaku penuh pada 2027, Crystalin menyatakan dukungannya. Sebagai bagian dari Orang Tua Group, perusahaan memandang kebijakan tersebut sebagai langkah penting untuk menciptakan sistem transportasi dan distribusi yang lebih aman dan tertib.
Baca Juga: Distribusi Logistik Industri AMDK Bisa Terganggu Efek Kebijakan Zero ODOL “Kami berkomitmen menjalankan prinsip
good corporate governance dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Implementasi Zero ODOL merupakan bagian dari upaya menciptakan keselamatan dan ketertiban di jalan,” kata Wijoyo. Dalam masa transisi, perusahaan melakukan sejumlah penyesuaian operasional, termasuk optimalisasi
product mix dengan meningkatkan porsi produk
snack/food yang memiliki volume besar namun bobot relatif ringan. Strategi ini dinilai dapat membantu menjaga efisiensi distribusi tanpa melanggar batas muatan. “Selain itu, kami juga melakukan evaluasi kapasitas muatan dan penguatan koordinasi dengan mitra logistik guna memastikan seluruh proses distribusi berjalan sesuai dengan ketentuan,” jelas Wijoyo. Terkait armada yang digunakan, Wijoyo mengatakan distribusi dilakukan menggunakan armada truk yang ramah regulasi, dengan kapasitas yang disesuaikan kebutuhan wilayah dan karakteristik produk.
Baca Juga: Konsumsi Domestik Jadi Andalan, Industri AMDK Siap Ekspansi pada 2026 Penyesuaian operasional ditempuh melalui optimalisasi rute dan utilisasi armada untuk menjaga kelancaran pasokan sekaligus meningkatkan efisiensi energi dan menekan jejak karbon. Adapun penambahan armada dilakukan secara selektif dan berbasis kebutuhan jangka panjang. Wijoyo mengakui pembatasan kapasitas muatan berpotensi memengaruhi struktur biaya logistik. Namun, perusahaan berupaya menjaga efisiensi agar potensi kenaikan ongkos distribusi tidak serta-merta dibebankan kepada konsumen. Salah satu strategi yang ditempuh adalah mengoptimalkan sinergi logistik dengan mengombinasikan pengiriman produk berat dan ringan dalam satu armada. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan kapasitas angkut lebih optimal sekaligus menjaga biaya distribusi tetap terkendali.
“Melalui berbagai langkah efisiensi tersebut, kami berupaya mempertahankan stabilitas harga jual produk kepada konsumen tanpa mengurangi kualitas layanan maupun ketersediaan produk di pasar,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News