Hadapi Risiko El Nino, BCA Perkuat Pemantauan Kredit



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memperkuat pemantauan risiko kredit untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap debitur. Bank mengandalkan pemantauan kualitas portofolio dan early warning system untuk mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA melakukan mitigasi dengan memantau risiko konsentrasi kredit, penggunaan limit dan kualitas portofolio. "BCA senantiasa mencermati dinamika makroekonomi, baik domestik maupun global, termasuk dampak El Nino terhadap beberapa sektor ekonomi," ujar Hera kepada Kontan, Senin (5/10/2026).

Baca Juga: Per Agustus 2026, 117 Perasuransian Sudah Penuhi Ekuitas Minimum untuk 2026 Hera memastikan BCA terus menjaga komunikasi dengan debitur yang diperkirakan bisnisnya terdampak serta mengevaluasi sektor industri berdasarkan prospek dan kinerja usaha. Adapun pencadangan NPL BCA sudah dibentuk 165,5% dan terhadap LAR mencapai 68,7% per Juni 2026. Berdasarkan data Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) Bank Indonesia, kredit bank persero ke sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mencapai Rp 439,39 triliun pada Juli 2026, tumbuh 10,58% yoy. Memang, tidak ada rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di sektor ini. Sementara itu rasio NPL perbankan secara keseluruhan saat ini berada di level 2,11%, naik dari 2,10% pada Juli dan 2,05% pada Desember 2025. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan, sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi cuaca. Gangguan produksi, peningkatan biaya operasional serta penurunan pendapatan dapat mempengaruhi kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban kredit.

Baca Juga: IASC Terima 702.342 Laporan Kasus Penipuan hingga September 2026 "Dari perspektif sektor keuangan, El Nino yang menjadi salah satu cakupan dalam risiko iklim, dan menjadi salah satu fokus pengaturan dan pengembangan OJK mengingat dampaknya berpotensi menjalar dari sektor riil ke sektor keuangan dan pada akhirnya memengaruhi kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, dan tingkat permodalan bank," kata Dian dalam jawaban tertulis, dikutip Senin (5/10/2026).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News