KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengembangan ekosistem kawasan diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (
PANI) pada tahun 2026. Namun tren suku bunga tinggi menjadi risiko yang perlu diperhatikan perseroan. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi mengatakan, PANI adalah
master-
developer dari PIK 2 seluas 6.000 hektar yang didukung penuh oleh konglomerasi Agung Sedayu Group & Salim Group. PANI menguasai 1.825 hektar landbank raksasa dan memiliki 87,27% saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) yang merupakan pengelola pusat bisnis PIK 2. “PANI memiliki kas bersih yang besar yaitu Rp 3,8 triliun dan nyaris tanpa utang bank (zero net debt), memberikan fleksibilitas penuh untuk terus berekspansi tanpa tekanan bunga,” ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Catat Penjualan Semen 18,27 Juta Ton Hingga Semester I-2026 Wafi melihat ekosistem PIK 2 semakin hidup dengan dibukanya Tol Kamal–Teluknaga–Rajeg–Balaraja (Kataraja) yang diperkirakan dapat beroperasi penuh pada akhir tahun 2026, pameran di NICE mulai beroperasi pada kuartal ke-4 tahun 2025, dan hotel Hilton yang diperkirakan akan dibuka pada tahun 2027. Hal tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai lahan di sekitarnya yang masih dimiliki PANI. Meski begitu, Wafi menilai tren suku bunga tinggi menjadi risiko yang perlu diperhatikan PANI. Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah proyeksi pertumbuhan laba (EPS) sangat bergantung pada seberapa cepat porsi laba minoritas di anak usaha bisa terus ditekan. Serta sentimen regulasi terkait pencabutan status Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk area eco-tourism PIK2 (meskipun secara hukum terpisah dari lahan milik PANI). “Suku bunga tinggi dan pembeli premium yang berhati-hati dapat menghambat permintaan. Pendapatan terkonsentrasi di satu distrik (PIK2/Tangerang), sehingga guncangan lokal apa pun tidak terdiversifikasi,” jelas Wafi. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie percaya bahwa potensi kenaikan jangka panjang PANI akan didorong oleh pembukaan nilai struktural dalam ekosistem PIK 2 yang berkembang pesat. Kota ini menghasilkan pendapatan berulang yang kuat melalui daya tarik wisata utama, pusat pameran NICE, dan Hotel Hilton yang akan datang pada tahun 2027. “Ini didukung oleh pendanaan korporasi yang terlaksana dengan baik dan peningkatan aksesibilitas transformatif seperti jalan tol Kataraja dan jaringan LRT/MRT yang direncanakan, PIK 2 memantapkan posisinya sebagai destinasi utama,” ujar Adrian dalam risetnya pada 6 Juli 2026. Adrian melihat visibilitas yang jelas pada trajektori pertumbuhan PANI, didukung oleh eksekusi pra-penjualan yang kuat dan maksimalisasi cadangan lahan seluas 1.825 hektar (ha). Menurutnya, manajemen berada di jalur yang tepat untuk mencapai target pra-penjualan sebesar Rp 4,3 triliun untuk tahun 2026, setelah berhasil mengamankan 23% nya yakni Rp 987 miliar hanya dalam kuartal I – 2026. Momentum ini didorong terutama oleh permintaan yang tangguh di segmen perumahan (menyumbang 47%) dan lahan komersial (43%), ditambah dengan produk komersial (10%).
Adrian memproyeksikan pendapatan dan laba bersih PANI pada tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 5,07 triliun dan Rp 2,21 triliun. Adapun pada tahun 2025 PANI mengantongi pendapatan Rp 4,31 triliun dan laba bersih Rp 1,14 triliun.
Baca Juga: BEI Imbau Investor Tak Panik Sikapi Mundurnya Gubernur BI Adrian dan Wafi merekomendasikan buy saham PANI dengan target harga masing – masing Rp 8.500 per saham dan Rp 7.790 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News