KONTAN.CO.ID - Di tengah era transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI), kepemimpinan birokrasi menghadapi tantangan membawa organisasi publik mampu menjaga stabilitas tata kelola sekaligus mendorong inovasi dan perubahan. Dengan
ambidexterous leadership, seorang pemimpin dapat mengelola kedua hal tersebut secara seimbang. Topik ini menjadi pembahasan dalam
Virtual Sharing Session bertema
“Memimpin Stabilitas dan Transformasi Secara Bersamaan” yang dilaksanakan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) bersama Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK). Lebih dari 1.000 aparatur sipil negara (ASN) berbagai instansi pemerintah pusat dan daerah di seluruh Indonesia mengikuti forum ini secara daring pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam sambutannya, Kepala LAN RI Dr. Muhammad Taufiq, DEA menegaskan bahwa birokrasi modern harus mampu menjaga tata kelola pemerintahan yang tertib, akuntabel, dan tepercaya, namun juga responsif terhadap dinamika perubahan yang semakin cepat.
“ASN tidak hanya dituntut menjaga stabilitas sistem pemerintahan, tetapi juga harus mampu melakukan inovasi dan transformasi agar pelayanan publik semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Untuk menjawab tantangan ini, LAN menyelenggarakan berbagai pelatihan yang mendorong para ASN menciptakan perubahan sambil tetap mematuhi aturan yang ada, termasuk pembelajaran mengenai
ambidexterous leadership dalam
virtual sharing session kali ini. Sementara itu, Dr. Yunus Triyonggo, CAHRI, EPC., Chairman GNIK sekaligus Chairman Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS), menyatakan
ambidexterous leadership sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi ASN. “Struktur di ASN sangat rigid, tapi bukan berarti tidak ada ruang untuk bereksplorasi. ASN perlu mempertahankan semangat terus belajar dan berinovasi meraih
project yang bisa diperbaiki untuk menjadi ASN yang berkualitas dunia,” jelasnya. Memasuki sesi diskusi, Effendi Ibnoe, Senior HR Advisor, menjelaskan konsep
ambidextrous leadership, yaitu kemampuan pemimpin untuk menjalankan dua mandat secara bersamaan: memastikan stabilitas organisasi tetap terjaga sekaligus mendorong transformasi. Menurut Effendi, tantangan kepemimpinan saat ini tidak lagi sekadar memilih antara stabilitas atau perubahan. “Pemimpin masa kini harus mampu mengelola keduanya secara bersamaan. Stabilitas menciptakan keandalan dan kepercayaan, sementara transformasi memastikan organisasi tetap relevan di masa depan,” jelasnya. Dalam pemaparannya, Effendi antara lain menjelaskan pemimpin harus dapat mengelola stabilitas dan transformasi secara seimbang. Namun, keseimbangan bukan berarti kedua aspek ini memiliki rasio yang sama. “Bisa berbeda untuk setiap unit, dan dapat berubah juga seiring waktu dan konteks bisnisnya. Sistem ini cenderung memilih satu sisi, namun jangan sampai dalam menjaga stabilitas kemudian transformasi dimatikan, begitu pula sebaliknya,” tutur Effendi. Selanjutnya ia mengungkapkan, pemimpin yang menerapkan
ambidextrous leadership perlu memberikan rasa aman secara psikologis dalam organisasi. Sebagai contoh, mendorong budaya agar karyawan dapat menyampaikan pendapat serta ide-ide baru tanpa takut disalahkan dan ada pembelajaran dari kegagalan. “Konsisten dan terus menerus, itu akan menghidupkan
ambidexterity kita di Indonesia.
Ambidexterity bukan konsep sesaat, ia hadir dalam keputusan setiap pemimpin, prioritas yang dipilih, dan cara mereka merespons tekanan bisnis,” pungkas Effendi. Menanggapi tantangan kepemimpinan di era transformasi digital dan AI, Project Director Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026, Adhi Nugroho, menyampaikan pentingnya ruang kolaborasi nasional yang mempertemukan pemerintah, pihak swasta maupun BUMN, serta akademisi. “Jika kita berbicara tentang masa depan Indonesia, kita sebenarnya sedang berbicara tentang kualitas manusia yang memimpin dan menggerakkan sistemnya,” ujarnya. Masa depan produktivitas Indonesia dapat ditingkatkan dengan transformasi teknologi dan AI yang tetap berpusat pada manusia. Inilah inti tema IHCBS 2026 yaitu “
Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity.” IHCBS 2026 akan diselenggarakan pada 15–16 September 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Jakarta. Selama dua hari perhelatannya, forum ini akan menghadirkan lebih dari 70 pembicara nasional dan internasional yang membawakan topik-topik strategis. Selain itu, IHCBS 2026 juma mempertemukan lebih dari 6.000 pengambil keputusan lintas industri, serta dari sektor pemerintahan dan akademisi.
Tanpa kesiapan talenta dan pendekatan yang berfokus pada manusia, teknologi tidak akan otomatis mendorong pertumbuhan produktivitas SDM dan Indonesia. Di sisi lain, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, produktivitas harus tumbuh jauh lebih cepat. “Di sinilah relevansi IHCBS 2026 untuk bisa menjembatani potensi teknologi dengan performa nyata manusia antara manusia dan organisasi,” imbuh Adhi. Agar transformasi sumber daya manusia bisa berjalan nyata dan berkelanjutan, pemerintah, dunia usaha, dan akademisi harus bersinergi. Diharapkan melalui dialog strategis yang tercipta antara ketiga ekosistem ini dalam forum IHCBS 2026, SDM Indonesia dapat semakin berdaya saing di level nasional bahkan global, menuju Indonesia Emas 2045. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News