KONTAN.CO.ID - JAKARTA, Bank Indonesia (BI) menyiapkan serangkaian langkah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menekankan bahwa solusi utama yang ditawarkan adalah memperkuat sinergi kebijakan dan mengandalkan permintaan domestik sebagai penopang utama ekonomi. Perry menilai kondisi global saat ini sedang tidak kondusif, dipicu perlambatan ekonomi, kebijakan tarif tinggi Amerika Serikat (AS), serta eskalasi konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Tekan Ekonomi Global, BI Tahan BI-Rate Situasi ini berisiko mendorong kenaikan harga komoditas, mempertahankan suku bunga global tinggi, hingga memicu arus modal keluar yang dapat menekan ketahanan eksternal Indonesia. Menghadapi tekanan tersebut, BI mendorong pendekatan yang lebih terkoordinasi antara otoritas, dengan fokus pada penguatan sumber pertumbuhan dari dalam negeri. "Kita perlu memperkuat sinergi dan mendorong perekonomian berbasis permintaan domestik," ujar Perry. Secara konkret, BI menawarkan tiga arah solusi utama. Pertama, memulihkan kepercayaan pelaku usaha sekaligus mempercepat penyaluran pembiayaan ke proyek-proyek prioritas nasional. Upaya ini diarahkan untuk memastikan dunia usaha tetap ekspansif di tengah ketidakpastian, sekaligus menciptakan stabilitas ekonomi yang produktif, bukan sekadar defensif.
Baca Juga: Penurunan Bunga Kredit Masih Lambat, BI Dorong Bank Percepat Penyesuaian Kedua, memperkuat mesin pertumbuhan domestik melalui konsumsi dan investasi. BI melihat konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama yang perlu dijaga, sementara investasi harus terus didorong agar program prioritas pemerintah berjalan optimal. Ketersediaan likuiditas dan akses pembiayaan menjadi kunci dalam strategi ini. Ketiga, memastikan implementasi kebijakan berjalan efektif hingga ke level riil. Perry menegaskan, kerangka kebijakan yang sudah kuat harus diterjemahkan secara konkret di sektor usaha, perbankan, dan masyarakat agar memberikan dampak langsung terhadap perekonomian. Ia juga menyoroti pentingnya percepatan hilirisasi dan industrialisasi sebagai sumber pertumbuhan baru. Untuk mendukung langkah tersebut, BI mengoptimalkan bauran kebijakan. Dari sisi moneter, kebijakan diarahkan menjaga stabilitas dan ketahanan eksternal.
Baca Juga: BI Dorong QRIS Bisa Digunakan untuk Credit Scoring Fintech Lending, Ini Kata OJK Sementara itu, kebijakan makroprudensial difokuskan pada penyediaan likuiditas guna mendorong intermediasi perbankan. Adapun dari sisi sistem pembayaran, BI mempercepat digitalisasi ekonomi dan keuangan sebagai motor pertumbuhan baru. Perry menegaskan, koordinasi erat antara pemerintah, BI, dan lembaga terkait menjadi kunci keberhasilan strategi ini. Dengan kombinasi kebijakan tersebut, BI optimistis target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 5,4% tetap dapat dicapai di tengah tekanan global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News