Hadapi The Fed, BI klaim cadangan devisa mencukupi



JAKARTA. Rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed menjadi tantangan ekonomi Indonesia di tahun depan. Bank Indonesia (BI) mengaku posisi cadangan devisa Indonesia saat ini cukup untuk mengantisipasi gejolak jika kenaikan suku bunga tersebut dilakukan.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan dampak normalisasi The Fed sudah terjadi sejak setahun terakhir. Maka dari itu, apabila kenaikan benar terjadi pada tahun depan maka hal tersebut sudah diantisipasi.

Menurut Perry, BI dalam hal ini sudah melakukan penyesuaian yang diantaranya adalah mempertahankan suku bunga pada level 7,5%. Posisi cadangan devisa yang tercatat sebesar US$ 112,0 miliar atau naik tipis US$ 800 juta dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar US$ 111,2 miliar sudah dirasa cukup.


Nilai US$ 112,0 tersebut dapat membiayai 6,6 bulan impor. "Itu cukup mampu memitigasi kenaikan. Tentu BI akan melakukan pemantauan," ujar Perry, Jumat (14/11).

Di sisi lain, BI pun mempunyai perjanjian Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan berbagai negara. BI menandatangani BSA dengan China senilai US$ 15 miliar, dengan Jepang senilai US$ 22,78 miliar, dan dengan Korea Selatan senilai US$ 10 miliar. Berbagai jalinan kerja sama tersebut sebagai bentuk pertahanan terhadap goncangan ekonomi dunia.

Ada pula komitmen kerja sama Perjanjian Chiang Mai Initiative Multilateralisation (CMIM) antara Indonesia dan negara kawasan ASEAN dengan China, Jepang serta Korea Selatan. Sebelumnya komitmen kerja sama CMIM sebesar US$ 120 miliar lalu ditingkatkan menjadi US$ 240 miliar.

Dengan bantalan cadangan devisa dari kerja sama tersebut sebagai pertahanan kedua, BI merasa cukup untuk menghadapi tekanan The Fed. Asal tahu saja, BI memprediksi suku bunga The Fed pada akhir tahun depan akan meningkat menjadi 1,4% dari posisi saat ini 0,25%. Kemudian pada akhir tahun 2016 akan naik menjadi 2,9%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan