Hafiz meniru kesuksesan sang bunda (1)



Bukan karena terpaksa, Hafiz Khairul Rijal menjadi pengusaha. Tapi, profesi ini adalah pilihan hidupnya. Dengan gigih, ia memulai usaha. Tak tanggung-tanggung, 10 jenis usaha dijajalnya, walaupun gagal. Kesuksesan baru datang saat berbisnis dawet. Saat ini, ia telah memiliki lebih dari 220 gerobak Dawet Cah Mbanjar.Berwirausaha, sudah menjadi pilihan hidup Hafiz Khairul Rijal. Jalan hidup ini tak lepas dari keberhasilan sang bunda. Saat ayahnya meninggal dunia, ibunya lalu membuka usaha dan setahun kemudian sudah bisa membeli sepeda motor.Berbanding terbalik dengan ayahnya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil alias PNS. Sekalipun menyandang gelar master dari sebuah universitas di Amerika Serikat dan hampir 20 tahun mengabdi untuk negara, penghasilan sang ayah tidak cukup untuk membeli sepeda motor.Belajar dari pengalaman sang ayah itulah, Hafiz bertekad tidak akan bekerja di instansi pemerintah atau perusahaan swasta. Tapi, meniru jejak sang ibu: membuka usaha. Keinginan itu sudah ia wujudkan, saat duduk di bangku kuliah.Ketika menjadi mahasiswa Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (USU), tepatnya 2002, Hafiz mulai menjajal menjadi wirausahawan. Bahkan, beberapa usaha ia lakoni sekaligus. "Waktu itu saya tidak fokus, jadi masih euforia punya usaha, malah berantakan semua," kenangnya.Padahal, ia telah melakoni pelbagai macam usaha, total ada 10 jenis, mulai dari laundry, katering, jualan ayam bakar, mie, kue lupis, hingga parfum dan handphone. Tapi, semuanya gagal.Karena usahanya berantakan, selepas kuliah, Hafiz banting setir menjadi staf Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam Aceh Monitoring Mission selama satu setengah tahun. Tapi, darah usahanya kembali mendidih, sehingga ia memutuskan keluar dan mulai lagi berwirausaha.Hafiz menjajal usaha jualan dawet. "Ini merupakan jenis usaha saya yang ke-11," ungkap lelaki berusia 32 tahun ini menceritakan bagaimana awal berdirinya usaha Dawet Cah Mbanjar.Ide untuk berdagang dawet ia dapatkan saat bertemu tukang dawet yang mangkal di daerah Sukarame, Medan. Saat itu, Hafiz iseng bertanya, berapa omzet yang didapat per hari dari jualan cendol, begitu sebagian orang menyebut dawet. Ternyata, penghasilannya cukup menggiurkan, sebesar Rp 300.000 per hari. "Profitnya bisa sampai 20%," ungkap Hafiz.Ia pun mendatangi juragagan dawet agar bisa bergabung berjualan minuman tersebut. Pembuat es dawet setuju untuk memasok bahan baku dan menyewakan gerobak kepada Hafiz. Hafiz tidak pernah lupa, saat pertama kali menjajakan dawet pada 25 Desember 2006 lalu. Dia harus mendorong gerobak dan mangkal di depan kampus USU. "Waktu itu musim hujan, alhamdulillah dalam sebulan rugi," katanya diiringi tawa.Meski rugi di bulan pertama berdagang dawet, Hafiz tak menyerah. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu cobaan yang harus dilalui. Sebab, ia berikrar, bisnis dawet merupakan usaha terakhir. "Harus maksimal," katanya. Tekadnya berbuah manis. Di bulan ketiga, usahanya laris manis. Pilihan berjualan dawet apalagi ia harus mendorong sendiri gerobaknya juga sempat mendapat cemoohan. Banyak juga teman-teman kuliahnya dulu yang meremehkan usahanya itu. Apalagi, Hafiz layak berbisnis yang lebih bergengsi lantaran ia pernah menjadi peserta pertukaran pemuda ASEAN-Jepang dan bekerja di PBB. Tapi, Hafiz tidak mau ambil pusing dengan semua cibiran itu. Soalnya, "Saya memilih usaha bukan karena tidak mampu bekerja di tempat lain," kata Hafiz.Kegagalan yang dialaminya saat masih kuliah dulu karena berbisnis lebih dari satu jenis usaha sekaligus, membuatnya yakin dan mantap untuk fokus pada dawet saja. "Banyak dari pengusaha besar yang sukses karena fokus dari hal yang kecil," ujar Hafiz.Dari tahun ke tahun jumlah gerobak Hafiz terus bertambah hingga mencapai 19 unit pada 2008. Di tahun tersebut, Hafiz mendapat tawaran untuk membeli seluruh usaha dawet dari pemilik aslinya.Tanpa pikir panjang, Hafiz mengambil tawaran tersebut. Apalagi, selama dua tahun bermitra, ia masih belum memegang resep rahasia pembuatan dawet dari sang juragan. Untuk mendapatkan seluruh gerobak, alat-alat produksi, serta resep pembuatan dawet, Hafiz harus merelakan merogoh kocek Rp 50 juta.(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi