KONTAN.CO.ID - Simak profil saham BYAN yang diborong oleh Haji Isam. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi salah satu perhatian utama pasar setelah muncul kepastian mengenai rencana masuknya pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam ke salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia tersebut. Melalui PT Jhonlin Baratama, Haji Isam telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low untuk mengambil alih 10.000.000.500 saham BYAN atau setara sekitar 30% dari seluruh saham yang beredar. Transaksi tersebut sekaligus memberikan perkembangan baru setelah sebelumnya beredar kabar mengenai rencana pengambilalihan sekitar 62% saham BYAN.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,69% ke 6.365, Asing Masih Borong Saham DSSA hingga BBCA Dalam keterbukaan informasi terbaru, jumlah saham yang akan dialihkan kepada Jhonlin Baratama adalah 10 miliar saham atau sekitar 30%, bukan 62%. Penyelesaian transaksi masih bergantung pada terpenuhinya sejumlah kondisi pendahuluan. Menurut data
IPOT, saham BYAN telah mengalami kenaikan 19,96% ke Rp13.825/saham pada sesi 1 Jumat (18/9). Lalu, seperti apa profil emiten ini? Intip profil saham batu bara berikut ini.
Baca Juga: Asing Borong Saham-Saham Ini Saat IHSG Terkoreksi, Ada BBCA dan TLKM, Kamis (6/8) Profil saham BYAN
PT Bayan Resources Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara terintegrasi. Kegiatan usaha Bayan mencakup penambangan, pengolahan, pengangkutan hingga pengiriman batu bara kepada konsumen. Bayan Group menjalankan kegiatan pertambangan dengan metode open cut dan memiliki proyek besar yang berlokasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Perseroan juga mengembangkan infrastruktur logistik sendiri sebagai bagian dari rantai pasok batu bara. Jumlah saham BYAN yang tercatat mencapai 33.333.335.000 saham.
Baca Juga: Lagi Murah! Dirut BRI Sarankan Investor Borong Saham BBRI, Ini Alasannya Harga saham BYAN
Pada perdagangan 17 September 2026, saham BYAN ditutup pada level Rp11.525 per saham, naik 1,54% atau Rp175 dibandingkan posisi sebelumnya Rp11.350. Pada perdagangan hari yang sama, saham BYAN bergerak pada rentang Rp11.200 hingga Rp11.800. Sehari sebelumnya, 16 September 2026, saham BYAN ditutup di Rp11.350 setelah melonjak 11,27%.
| Indikator | 17 September 2026 |
| Harga penutupan | Rp11.525 |
| Perubahan | +Rp175 |
| Persentase | +1,54% |
| Harga tertinggi | Rp11.800 |
| Harga terendah | Rp11.200 |
| Volume | sekitar 2,91 juta saham |
Pergerakan saham tersebut terjadi di tengah perkembangan keterbukaan informasi mengenai rencana pengalihan saham kepada Jhonlin Baratama.
Baca Juga: Asing Mulai Borong Saham di BEI, Cermati Rekomendasi Analis Lini bisnis BYAN
Bayan Resources tidak hanya mengandalkan aktivitas penambangan batu bara, tetapi menjalankan rantai bisnis yang terintegrasi.
1. Pertambangan batu bara
Kegiatan utama BYAN adalah penambangan batu bara dengan metode open cut. Bayan memiliki sejumlah wilayah operasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Salah satu wilayah penting dalam operasi Bayan adalah Tabang, Kalimantan Timur. Perseroan juga memiliki proyek pertambangan lain yang menjadi bagian dari jaringan produksi batu bara Bayan Group.
2. Pengolahan dan produksi
Batu bara yang diproduksi dari tambang Bayan dikelola melalui sistem yang terintegrasi sebelum dikirim kepada pelanggan. Perseroan memiliki berbagai jenis produk batu bara yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Bayan juga memiliki kontrak penjualan jangka panjang dengan sejumlah konsumen domestik dan internasional. Dalam laporan tahunan, perseroan menyebut sekitar 23% penjualan batu baranya pada 2024 ditujukan ke pasar domestik.
3. Infrastruktur dan logistik
Infrastruktur menjadi bagian penting dari model bisnis Bayan. Perseroan mengoperasikan fasilitas dermaga dan infrastruktur pengangkutan untuk mendukung distribusi batu bara. Menurut situs resmi perusahaan, pengendalian rantai logistik merupakan salah satu strategi penting Bayan Group. Perseroan mengoperasikan sejumlah fasilitas dermaga untuk mendukung proses pengiriman batu bara. Integrasi antara tambang, pengangkutan, fasilitas pengolahan dan pelabuhan memungkinkan perseroan mengendalikan sebagian besar rantai pasok batu bara hingga pengiriman kepada konsumen.
Baca Juga: Diam-Diam JPMorgan, Manulife, Hingga Invesco Borong Saham ANTM, Pertebal Keuntungan Pemegang saham BYAN
Sebelum rencana transaksi dengan Jhonlin Baratama, Low Tuck Kwong merupakan pemegang saham pengendali BYAN. Data resmi perseroan per 31 Maret 2026 menunjukkan Low Tuck Kwong secara langsung memiliki sekitar 40,22% saham dengan hak suara BYAN. Sementara itu, berdasarkan data kepemilikan yang dikutip dari laporan perseroan per 30 Juni 2026, Low Tuck Kwong memiliki 13.416.921.870 saham atau sekitar 40,25%, sedangkan Elaine Low memiliki 7.333.833.700 saham atau sekitar 22%. Dengan demikian, kepemilikan gabungan Low Tuck Kwong dan Elaine Low mencapai sekitar 62,25% (Data BEI 31 Agustus 2026).
| Pemegang saham | Jumlah saham | Persentase* |
| Low Tuck Kwong | 13.416.921.870 | 40,25% |
| Elaine Low | 7.333.833.700 | 22,00% |
| Pemegang saham lainnya | Sisa | sekitar 37,75% |
| Total | 33.333.335.000 | 100% |
*Data sebelum penyelesaian transaksi dengan Jhonlin Baratama.
Baca Juga: Pasar Bergejolak, Investor Kakap Termasuk Lo Kheng Hong Borong Saham Ini Haji Isam borong 30% saham BYAN
Perkembangan terbesar terbaru BYAN adalah penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat atau Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) antara Low Tuck Kwong dan Elaine Low dengan PT Jhonlin Baratama. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 16 September 2026. Saham yang akan dialihkan mencapai 10.000.000.500 saham, setara sekitar 30% dari seluruh saham BYAN. PT Jhonlin Baratama merupakan bagian dari Jhonlin Group yang dikaitkan dengan Haji Isam. Karena pembelian dilakukan melalui perusahaan tersebut, kepemilikan 30% nantinya berada pada Jhonlin Baratama, bukan tercatat atas nama pribadi Haji Isam. Penting dicatat, transaksi tersebut belum sama dengan perubahan kepemilikan yang sudah efektif. Keterbukaan informasi BYAN menyebut penyelesaian transaksi masih tunduk pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan.
Baca Juga: Harga Melorot, Tiga Direktur Borong Saham PGAS, PER & PBV Menarik Dicermati Berapa nilai 30% saham BYAN?
Harga transaksi saham yang disepakati antara para pihak belum diungkap dalam informasi yang tersedia. Namun, saat hanya menggunakan harga pasar BYAN pada penutupan 17 September 2026 sebesar Rp11.525 per saham sebagai ilustrasi, 10.000.000.500 saham tersebut memiliki nilai pasar sekitar Rp115,25 triliun. Angka tersebut bukan nilai transaksi yang disepakati, melainkan perkiraan nilai berdasarkan harga pasar. Nilai pembelian sebenarnya dapat berbeda dari harga pasar tersebut.
Baca Juga: Pasar Tertekan Minus 20% Ytd, Lo Kheng Hong Tetap Borong Saham Ini Secara Signifikan Kinerja terbaru BYAN
Mengutip data
BEI, BYAN mencatat pertumbuhan pada semester I 2026. Dalam laporan keuangan kuartal II 2026, pendapatan BYAN mencapai sekitar Rp29,92 triliun, naik 13,6% dibandingkan Rp26,33 triliun pada semester I 2025. Laba kotor naik 23,9% menjadi Rp10,58 triliun. EBITDA mencapai Rp10,43 triliun atau meningkat 17,8%, sedangkan laba bersih naik 24,4% menjadi Rp7,05 triliun.
| Kinerja | 6M 2026 | 6M 2025 | Perubahan |
| Pendapatan | Rp29,92 triliun | Rp26,33 triliun | +13,6% |
| Laba kotor | Rp10,58 triliun | Rp8,54 triliun | +23,9% |
| EBITDA | Rp10,43 triliun | Rp8,86 triliun | +17,8% |
| Laba bersih | Rp7,05 triliun | Rp5,67 triliun | +24,4% |
Pada semester I 2026, BYAN juga mencatat kas sekitar Rp16,67 triliun, total aset Rp67,50 triliun dan total ekuitas Rp46,14 triliun. Laporan yang sama mencatat tidak adanya utang jangka pendek maupun utang jangka panjang dalam posisi yang disajikan.
Tonton: Suku Bunga AS Naik ke 4%, Bagaimana Sikap Bank Indonesia? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News