Haji Isam Selangkah Lagi Caplok 10 Miliar Saham BYAN, Begini Pandangan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rumor akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh taipan Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam mulai menemui titik terang. Terbaru, pemegang saham utama BYAN, yakni Low Tuck Kwong dan Elaine Low meneken Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama, entitas terafiliasi Haji Isam pada Rabu (16/9).

Merujuk keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perjanjian ini terkait rencana pengalihan 10.000.000.500 saham biasa BYAN. Penyelesaian transaksi tunduk pada pemenuhan beberapa kondisi pendahuluan. Sayangnya, harga transaksi jual beli saham antar kedua belah pihak tidak diungkap di keterbukaan informasi.

Setelah seluruh syarat terpenuhi, maka Jhonlin Baratama akan memiliki saham biasa BYAN sesuai perjanjian yang telah disepakati. "Kejadian tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat mengganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha perusahaan," tulis Direktur BYAN Jenny Quantero dan Alastair Mcleod dalam keterbukaan informasi, Kamis (17/6).


Sebagai catatan, harga saham BYAN menguat 1,54% ke level Rp 11.525 per saham pada Kamis (17/9). Namun, sejak awal tahun, harga saham produsen batubara ini telah melorot -26,59% year-to-date (YtD).

Dihubungi secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, secara prinsip harga transaksi dalam jumlah besar dapat berbeda dengan harga pasar. Ini lantaran mempertimbangkan ukuran transaksi, likuiditas, dan struktur pengambilalihan.

Sebelumnya, memang ada informasi terkait penawaran sekitar US$ 3 miliar untuk sekitar 62% saham BYAN oleh Haji Isam yang secara implisit mencerminkan harga sekitar Rp 2.500--Rp 2.700 per saham. Namun, angka itu merupakan perhitungan berdasarkan nilai tawaran yang ramai diberitakan, bukan harga transaksi resmi.

"Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak langsung menjadikan angka tersebut sebagai indikasi harga BYAN pasca transaksi," kata dia, Kamis (17/9).

Nafan melanjutkan, prospek saham BYAN akan sangat bergantung pada detail transaksi final. Jika akuisisi terwujud dengan struktur pendanaan yang sehat dan mampu menghasilkan sinergi operasional, maka pergantian pengendali dapat menjadi katalis positif terhadap saham BYAN dalam jangka menengah-panjang.

Sebaliknya, dalam jangka pendek, ketidakpastian soal harga transaksi, valuasi akuisisi, mekanisme tender offer, dan potensi perubahan struktur kepemilikan justru berpotensi meningkatkan volatilitas saham.

Lantas, untuk saat ini investor bakal menanti kepastian harga definitif per saham dalam transaksi akuisisi BYAN oleh Jhonlin Baratama, persentase kepemilikan perusahaan tersebut setelah transaksi, hingga dampak transaksi tersebut secara resmi terhadap perubahan pengendali di tubuh BYAN.

"Jika tiga hal tadi tersedia, maka potensi harga tender offer dan risiko koreksi BYAN dapat dihitung dengan jauh lebih akurat," tandas Nafan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News