Haka Auto Andalkan Flash Charging dan Teknologi DM untuk Perluas Pasar Mobil Listrik



KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Persaingan pasar kendaraan listrik di Indonesia semakin ketat seiring masuknya berbagai merek baru, khususnya dari China. Di tengah kondisi tersebut, dealer BYD, Haka Auto, menilai pengembangan teknologi dan edukasi konsumen menjadi faktor penting untuk memperluas pasar kendaraan elektrifikasi.

CEO PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto), Hariyadi Kaimuddin mengatakan, konsumen kini memiliki semakin banyak pilihan kendaraan listrik. Kondisi ini turut mendorong perkembangan pasar melalui peningkatan edukasi dan penerimaan terhadap teknologi elektrifikasi.

Bagi Haka Auto, peluang pertumbuhan tidak hanya bergantung pada daya saing harga, desain, fitur, maupun jarak tempuh kendaraan. Kepraktisan penggunaan dan kesesuaian teknologi dengan kebutuhan mobilitas konsumen juga menjadi pertimbangan penting dalam keputusan pembelian.


Baca Juga: PQM Consultants Dorong Efisiensi Operasional Industri lewat CIC 2026

"Salah satu aspek yang masih menjadi perhatian konsumen adalah waktu pengisian baterai. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, BYD memperkenalkan teknologi Flash Charging pada 14 Oktober 2026," jelas Hariyadi kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Teknologi ini diklaim mampu mengisi daya baterai dari 10% menjadi 70% dalam sekitar lima menit dan mencapai 97% dalam sekitar sembilan menit pada kondisi pengisian yang sesuai, dengan dukungan Blade Battery generasi kedua dan perangkat pengisian berdaya hingga 1.500 kW.

Haryadi menilai inovasi tersebut dapat memperkuat diferensiasi kendaraan BYD di tengah persaingan pasar. Teknologi Flash Charging juga telah diperkenalkan melalui lini Danza, dengan potensi pengembangan lebih lanjut pada produk BYD berikutnya.

Menurut dia, waktu pengisian yang semakin singkat berpotensi meningkatkan kepraktisan penggunaan kendaraan listrik untuk mobilitas sehari-hari. Dengan begitu, salah satu pertimbangan konsumen dalam beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik dapat teratasi.

Namun, kebutuhan pasar tidak hanya berkaitan dengan kecepatan pengisian daya. Ketersediaan infrastruktur pengisian yang belum merata juga menjadi pertimbangan, terutama bagi konsumen yang tinggal di luar kota besar atau kerap melakukan perjalanan antarkota.

"Untuk menjangkau segmen tersebut, Haka Auto turut mengandalkan edukasi mengenai teknologi DM (Dual Mode). Teknologi ini menggabungkan penggerak listrik dengan mesin berbahan bakar sebagai sumber energi pendukung, sehingga menawarkan fleksibilitas penggunaan sesuai sistem kendaraan dan kondisi perjalanan," jelasnya.

Baca Juga: Waskita Beton Precast (WSBP) Laksanakan RUPSLB, Bahas Langkah Perusahaan ke Depan

Haryadi mengatakan, teknologi DM dapat menjadi nilai tambah bagi konsumen yang belum sepenuhnya bergantung pada jaringan SPKLU. Konsumen tetap dapat menikmati pengalaman berkendara elektrifikasi dengan dukungan mesin ketika dibutuhkan.

Penggunaan tenaga listrik maupun mesin dalam sistem tersebut tetap bergantung pada model kendaraan, pola pengisian daya, kondisi jalan, dan cara berkendara. Karena itu, pemahaman terhadap karakteristik teknologi menjadi bagian penting sebelum konsumen menentukan pilihan kendaraan.

“Bagi kami, Flash Charging dan DM memiliki peran yang saling melengkapi. Flash Charging mendorong batas kepraktisan melalui kecepatan pengisian daya, sedangkan DM menawarkan fleksibilitas penggunaan dalam kondisi infrastruktur pengisian daya yang belum merata,” ujar Haryadi.

Ke depan, Haka Auto akan memperkuat edukasi pasar melalui aktivitas pemasaran, pameran, dan test drive. Perusahaan juga akan memastikan kesiapan jaringan dealer dan layanan purnajual untuk mendukung kebutuhan konsumen.

Haryadi menegaskan, strategi pemasaran tidak semata-mata bertumpu pada promosi atau insentif pembelian. Perusahaan ingin membantu konsumen memahami manfaat teknologi, pengalaman kepemilikan, serta pilihan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas masing-masing.

Di tengah bertambahnya pilihan merek kendaraan listrik, pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing BYD sekaligus mendukung pertumbuhan pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News