Hal yang Harus Diwaspadai Dibalik Tawaran Bantuan China untuk Hilirisasi Mineral RI



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Tawaran China untuk memperkuat manufaktur dan hilirisasi mineral di Indonesia harus diwaspadai. China disinyalir mempunyai maksud tertentu dari pemberian bantuan tersebut.

Pemerintah China secara resmi menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk memperkuat sektor manufaktur dan meningkatkan nilai tambah komoditas mineral dalam negeri. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari strategi Beijing untuk mengamankan rantai pasok mineral kritis di tengah memanasnya persaingan geopolitik global.

Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong mengatakan, penguatan integrasi rantai pasok dan industri antara kedua negara dapat mendukung target pembangunan ekonomi Indonesia dan China. Menurutnya, agenda hilirisasi sumber daya mineral Indonesia dapat dipadukan dengan kemampuan manufaktur yang dimiliki China.


"Hilirisasi sumber daya mineral Indonesia dapat dipadukan dengan kemampuan manufaktur China untuk meningkatkan nilai tambah komoditas," ujar Wang Lutong seperti dikutip Antara, Senin (20/7).

Indonesia diketahui telah melarang ekspor sejumlah mineral mentah seperti nikel, bauksit dan tembaga sejak 2014. Kebijakan tersebut bertujuan mendorong perusahaan tambang untuk melakukan pengolahan dan pemurnian mineral (smelting) di dalam negeri sehingga mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Pengamat menilai tawaran kerja sama dari China tidak hanya berkaitan dengan investasi manufaktur, tetapi juga menjadi upaya strategis untuk memperoleh akses terhadap cadangan mineral Indonesia yang tidak lagi dapat diekspor dalam bentuk mentah.

Baca Juga: Hari Ini (27/7) 30 Tahun Kudatuli, Peristiwa Berdarah Dalam Sejarah Politik Indonesia

China Ingin Amankan Rantai Pasok Mineral Kritis

Visiting Senior Fellow ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, Jayant Menon, mengatakan perusahaan China yang melakukan pengolahan mineral di Indonesia memiliki keuntungan untuk memasok pasar domestik Indonesia maupun masuk ke dalam rantai pasok global.

"Saya pikir mereka ingin mengamankan sebanyak mungkin rantai pasok tersebut," ujar Jayant Menon seperti dikutip South China Morning Post, Sabtu (25/7).

Sebelum kebijakan larangan ekspor nikel diberlakukan, Indonesia memasok sekitar separuh kebutuhan impor bijih nikel China. Ketika kebijakan tersebut diterapkan secara ketat, perusahaan-perusahaan China menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampaknya.

Indonesia sendiri merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Komoditas ini menjadi bahan baku penting dalam industri baja tahan karat (stainless steel) dan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang permintaannya terus meningkat secara global.

Di tengah upaya Amerika Serikat membangun rantai pasok mineral kritis di luar China, posisi Indonesia menjadi semakin strategis bagi Beijing. Menurut Menon, peningkatan investasi China di Indonesia menjadi salah satu cara untuk mempertahankan peran Beijing dalam rantai pasok energi hijau dunia.

Tonton: Awas! Peserta Tax Amnesty yang Tak Pulangkan Aset Siap-Siap Diperiksa Mulai 2027

Investasi China Capai Rp 1.050 Triliun

Ekspansi investasi China di sektor pertambangan dan energi Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam satu dekade terakhir.

Dua akademisi yang berbasis di Singapura dalam publikasi yang dirilis pada Juni 2026 mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan China telah menginvestasikan lebih dari US$ 65 miliar atau setara sekitar Rp 1.050 triliun di Indonesia.

Investasi tersebut digunakan untuk membangun berbagai fasilitas hilirisasi, mulai dari smelter, kawasan industri terpadu hingga fasilitas pengolahan material baterai kendaraan listrik.

Melalui investasi tersebut, China tetap dapat memanfaatkan pasokan mineral Indonesia tanpa melanggar kebijakan larangan ekspor bijih mentah. Di sisi lain, Indonesia memperoleh manfaat berupa transfer teknologi, peningkatan kapasitas manufaktur serta penciptaan lapangan kerja.

Di tengah rivalitas geopolitik yang semakin menguat, Indonesia juga menunjukkan pendekatan diplomasi ekonomi yang fleksibel. Tahun lalu, Indonesia dan Amerika Serikat menerbitkan pernyataan bersama yang menyebutkan Indonesia akan menghapus pembatasan ekspor mineral kritis ke Amerika Serikat.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berupaya menjaga keseimbangan hubungan ekonomi dengan berbagai negara mitra strategis.

Tonton: KAI Uji Kereta Sleeper Mewah Nusantara Explorer, Hotel Bintang Lima di Atas Rel?

Tiga Sektor Strategis yang Diincar China

Dalam pengembangan industri manufaktur, Wang Lutong menyebut terdapat tiga sektor utama yang memiliki potensi kolaborasi besar antara Indonesia dan China, yakni:

  1. Industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

  2. Industri material baterai kendaraan listrik.

  3. Industri pengolahan baja (steel processing).

Ketiga sektor tersebut membutuhkan pasokan mineral dalam jumlah besar, terutama nikel yang menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia.

Melalui kemitraan strategis tersebut, China berharap dapat memperkuat posisinya dalam rantai pasok energi hijau global. Sementara bagi Indonesia, kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat hilirisasi industri, meningkatkan nilai tambah mineral domestik serta memperbesar kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/07/26/093000665/media-asing-soroti-tawaran-bantuan-manufaktur-china-ke-indonesia-analis-?page=all#page2.  

Harta Kepala BGN Sudaryono Disorot! Punya Aset Rp69 Miliar, Tapi Utang Rp60 Miliar
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News