Hana Bank Cermati Kenaikan BI Rate, Optimistis Kredit Akan Tetap Tumbuh Sesuai Target



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) baru saja mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,25%. Menghadapi kenaikan BI Rate, PT Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank) optimistis pertumbuhan kreditnya masih akan terjaga sesuai target.

Direktur Branch Business Hana Bank, Hendri Setiawan menyebut, kenaikan BI Rate ini tidak serta-merta membuat bank ikut menaikkan bunga kredit.

Menurutnya, bunga kredit bank akan mengalami kenaikan jika biaya dana alias cost of fund (COF) juga mengalami kenaikan. Sedangkan, COF sendiri akan mengalami kenaikan jika bank terlalu bergantung pada deposito.


Baca Juga: OJK Proyeksikan Aset Industri Penjaminan Tumbuh 14%-16% pada 2026

Sebab itu, Hendri memastikan sampai saat ini, likuiditas Hana Bank masih terjaga dengan solid. Dengan begitu, ia yakin COF Hana Bank pun masih dapat terus ditekan dan suku bunga kredit juga tidak akan naik drastis.

"Hana Bank saat ini tidak ada permasalahan dengan likuiditas dan nasabah kita pun masih bisa termanage, tapi kami akan tetap compete dengan situasi market," kata Hendri dalam media gathering Hana Bank, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Menurut Hendri, dampak dari kenaikan BI Rate ini baru dapat dilihat beberapa bulan ke depan. Sebab itu, Hana Bank pun akan terus memantau perkembangan industri untuk menentukan langkah bisnis ke depannya.

Hendri mengatakan, jika pertumbuhan kredit perbankan terhambat, maka laju pertumbuhan ekonomi juga akan ikut melandai.

"Saya masih percaya bahwa pemerintah sangat menjaga akan hal itu. Kalau kita lihat juga secara normal pada semester pertama, kredit masih bisa tumbuh. Belum terlihat ada sebuah perubahan," ucapnya.

Adapun hingga kuartal 1-2026, Hana Bank telah menyalurkan kredit sebesar Rp 39,67 triliun. Hana Bank menargetkan kreditnya mencapai Rp 43,30 triliun untuk tahun 2026.

"Kita tetap yakin dengan pertumbuhan kredit tahun ini, tapi dengan dinamika seperti ini kan bisa berubah. Apakah target akan dirubah? Kita belum ada rencana untuk merevisi target," ucapnya.

Baca Juga: OJK: Penjaminan Sektor Produktif Tembus Rp 272 Triliun Kuartal I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News