Hanya 17 Kapal Lewati Selat Hormuz, Distribusi Minyak Dunia Terancam



KONTAN.CO.ID - Lalu lintas kapal pengangkut komoditas di Selat Hormuz terus menyusut di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) global.

Data pelayaran menunjukkan hanya 17 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan. Jumlah tersebut turun tajam dibandingkan 37 kapal pada akhir pekan sebelumnya.


Baca Juga: Harga Tembaga Menguat ke US$14.577 Senin (21/9), Permintaan China Jadi Penopang

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melewati selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.

Mengutip Reuters, data sementara perusahaan analitik Kpler hingga pukul 07.06 GMT pada Senin (21/9) menunjukkan lima kapal yang dapat dilacak keluar dari Selat Hormuz pada Minggu. Sementara itu, dua kapal tanker minyak berukuran kecil memasuki kawasan Teluk.

Lima kapal yang keluar terdiri dari very large crude carrier (VLCC) Pinios, dua kapal tanker pengangkut produk minyak olahan, serta dua kapal pengangkut curah dan gas dalam kondisi kosong.

Kondisi tersebut menunjukkan lalu lintas kapal yang terlihat di Selat Hormuz telah turun menjadi sangat rendah.

Meski demikian, produsen minyak Timur Tengah masih melakukan ekspor menggunakan kapal tanker yang mematikan sistem transponder sehingga pergerakannya tidak dapat dipantau secara terbuka.

Baca Juga: Bursa Australia Flat Senin (21/9), Saham Bank Menguat Jelang Kenaikan Suku Bunga RBA

Minyak Saudi dan Irak tetap mengalir

Salah satu pergerakan kapal yang terpantau adalah VLCC Pinios. Pada Senin, kapal tersebut tercatat sedang memindahkan sekitar 2 juta barel minyak mentah Basrah asal Irak di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab, ke VLCC lainnya, New Constant.

Data Kpler dan LSEG menunjukkan New Constant diperkirakan melanjutkan perjalanan menuju China.

Baca Juga: ASX Rombak Manajemen, Percepat Transformasi Teknologi Bursa Australia

Pada Sabtu (19/9), delapan kapal, termasuk sebuah supertanker, juga meninggalkan kawasan Teluk dengan membawa berbagai komoditas, mulai dari minyak mentah, produk minyak, LNG, liquefied petroleum gas (LPG), pupuk hingga produk pertanian.

Salah satunya adalah kapal tanker LNG Shandong Redwood yang membawa muatan dari pelabuhan Ras Laffan, Qatar. Kapal tersebut keluar dari Selat Hormuz pada 19 September dan kini menuju Pakistan.

Sebelum perang antara AS-Israel dan Iran dimulai pada 28 Februari, Selat Hormuz biasanya dilalui sekitar 125 kapal komersial berukuran besar setiap hari, termasuk kapal tanker, pengangkut gas, kapal curah dan kapal kontainer.

Penurunan lalu lintas tersebut menjadi perhatian karena jalur ini merupakan salah satu titik paling penting dalam rantai pasok energi dunia.

Di sisi lain, ekspor minyak Arab Saudi melalui Selat Hormuz justru meningkat.

Serangan kelompok Houthi terhadap pipa East-West milik Saudi Aramco, yang menjadi jalur alternatif pengiriman minyak Saudi selama konflik Iran, mendorong perusahaan energi negara tersebut meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz pada September dan Oktober.

Data Kpler menunjukkan sebanyak 22 kapal tanker, sebagian besar VLCC, keluar dari Selat Hormuz pada pekan 13 September dengan membawa sekitar 42 juta barel minyak mentah.

Arab Saudi dan Irak masing-masing menyumbang sekitar 43% dari volume tersebut.

Baca Juga: Starbucks Bangun Pusat Teknologi Global di India, Buka 800 Lapangan Kerja

Lalu lintas Bab el-Mandeb ikut turun

Tekanan pada jalur pelayaran juga terlihat di Selat Bab el-Mandeb di ujung selatan Laut Merah.

Sebanyak 51 kapal tercatat melintasi selat tersebut, dengan 33 kapal keluar selama akhir pekan. Jumlah itu turun dari 57 kapal pada akhir pekan sebelumnya.

Salah satu kapal yang melintas adalah tanker berukuran Aframax yang membawa sekitar 700.000 barel minyak mentah Arab Saudi.

Sementara itu, tidak terlihat adanya aktivitas pemuatan minyak dari pelabuhan Yanbu milik Arab Saudi di Laut Merah sejak 16 September.

Perubahan arus pelayaran tersebut menunjukkan konflik Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan kapal, tetapi juga berpotensi mengubah jalur distribusi komoditas energi dan meningkatkan risiko terhadap rantai pasok minyak global.

Baca Juga: Kasus Gagal Bayar Reksadana Guncang Turki, Ini yang Dilakukan Otoritas Pasar Modal