Hanya 3 Hari Perdagangan Pekan Ini, Intip Prediksi Rupiah Untuk Senin (20/5)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (17/5). Tetapi dalam sepekan terakhir, kurs rupiah justru menguat dan bergerak di bawah level Rp 16.000 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, Jumat (17/5), nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,20% ke posisi Rp 15.955 per dolar AS. Kurs Rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) juga turut melemah 0,21% ke Rp 15.978 per dolar AS.

Dalam sepekan, kurs rupiah spot menguat 0,57%. Sedangkan kurs rupiah Jisdor menguat0,64%.Adapun indeks dolar AS menguat 0,16% ke 104,63. 


Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, data inflasi AS yang melandai menyebabkan dolar AS melemah. Alhasil, rupiah mampu bertahan di bawah level Rp 16.000 per dolar AS dalam dua hari perdagangan terakhir dan menguat dalam sepekan.

“Data ini makin menguatkan variabel lainnya, yakni data tenaga kerjaan (NFP) yang turun, penjualan ritel yang merosot, dan juga sektor jasa dan manufaktur mengalami kontraksi,” kata Nanang kepada Kontan.co.id, Sabtu (18/5). 

Baca Juga: Kurs Rupiah Jisdor Melemah 0,21% ke Rp 15.978 Per Dolar AS, Jumat (17/5)

Faktor eksternal yang memberi harapan bahwa The Fed sedang berada di ambang pintu untuk bersiap melakukan pelonggaran moneter. Tetapi dolar tercatat rebound terbatas pada Jumat lalu di tengah pernyataan pejabat bank sentral The Fed yang masih pesimistis terhadap keberlanjutan penurunan laju inflasi AS.

Nanang menyebutkan, rupiah masih bergerak terbatas karena banyak outflow yang terjadi di pasar obligasi dan saham. Beberapa katalis terbaru pun menunjukkan perlambatan, seperti laporan ekspor yang melambat di bulan April 2024 lalu. 

“Pada pekan depan, pergerakan rupiah dalam sepekan diprediksi akan berada dalam zona range Rp 15.860 per dolar AS-Rp 16.050 per dolar AS seiring dengan minimnya katalis penting kecuali FOMC minutes dari Fed. Sikap hawkish dalam notulen rapat FOMC, kemungkinan bisa berbalik dan dolar akan menguat,” imbuhnya. 

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan dolar AS terjadi setelah beberapa pejabat Federal Reserve (Fed) mengatakan bahwa mereka memerlukan lebih banyak keyakinan bahwa inflasi akan turun. Hal ini membuat traders mengurangi taruhannya pada penurunan suku bunga di bulan September menurut CME Feedwatch Tools. 

Baca Juga: Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Untuk Senin (20/5)

Ibrahim memprediksi bahwa rupiah berpotensj bergerak sideways akibat minggu yang pendek pada pekan inin. Kemudian, data-data AS yang cenderung penting akan rilis pada saat libur panjang di Indonesia, seperti FOMC minutes, US Manufacturing PMI, serta Initial Jobless Claims. Dia memprediksi, rupiah akan ditutup menguat di rentang Rp 15.900 per dolar AS-Rp 15.990 per dolar AS, pada perdagangan Senin (20/5). 

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan rupiah dibuka melemah pada perdagangan Jumat (17/5) akibat data AS yang dirilis pada Kamis (16/5) cenderung bervariasi. Selain itu, pernyataan dari pejabat the Fed yang cenderung mendukung kebijakan higher-for-longer dari the Fed. 

“Meskipun dibuka melemah, sepanjang hari pada Jumat lalu, pergerakan rupiah mampu memangkas tren pelemahannya hingga mampu ditutup melemah terbatas 0,19% ke level Rp 15.955 per Dollar AS,” kata Josua kepada Kontan.co.id, Sabtu (18/5). 

Joshua pun memperkirakan, rupiah akan bergerak di kisaran Rp15.925 per dolar AS-Rp 16.025 per dolar AS pada perdagangan Senin (20/5). Sedangkan Nanang memproyeksikan bahwa rupiah akan berada dalam rentang harga Rp 15.910 per dolar AS-Rp 16.020 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati