KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bank besar mencatat perbaikan kualitas kredit pada semester I-2026 meski langkah hapus buku kredit bermasalah tidak sebesar periode yang sama tahun lalu. Penurunan nilai hapus buku terjadi di sejumlah bank, sementara rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross tetap terjaga bahkan membaik. Di Bank Negara Indonesia (BNI), misalnya, nilai kredit yang dihapus buku pada semester I-2026 tercatat Rp 4,45 triliun. Angka tersebut turun cukup signifikan dibandingkan Rp 7,94 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski nilai hapus buku menyusut, BNI mampu mempertahankan rasio NPL gross di level 1,9%, sama seperti posisi tahun lalu.
Tren serupa terlihat di Bank Danamon. Nilai kredit yang dihapus buku sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 1,23 triliun, turun dari Rp 1,58 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Strategi Perbankan Pacu Kredit Konsumer Di tengah penurunan nilai hapus buku tersebut, kualitas kredit Bank Danamon justru membaik. NPL bank turun menjadi 1,68% dari sebelumnya 2,03%. Bank Central Asia (BCA) juga mencatat penurunan tipis nilai aset keuangan yang dihapus buku. Hingga Juni 2026, nilai hapus buku BCA mencapai Rp 1,70 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp 1,77 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, NPL gross BCA turun menjadi 1,9% dari 2,2%. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn menjelaskan, pada prinsipnya bank melakukan hapus buku kredit secara selektif dengan ketentuan yang berlaku. Hera bilang pihaknya terus mengedepankan prinsip kehati-hatian untuk menjaga kualitas kredit dan mengelola NPL secara optimal. Hasil hapus buku terkini, kata Hera, pada dasarnya menunjukkan bahwa penyelesaian aset bermasalah sudah sesuai dengan target dan timeline yang ditetapkan bank. “Ke depan, BCA optimistis dalam penyaluran kredit dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, sehingga kualitas pinjaman tetap terjaga,” ujar Hera kepada Kontan, dikutip Rabu (19/8/2026). Sejalan dengan hal tersebut, ia juga memastikan pihaknya bakal memperkuat prinsip KYC (Know Your Customer), memperkuat proses analisa kredit dengan memperhatikan peringkat (scoring), dan melakukan monitoring secara berkala dan mendalam, guna menjaga kualitas portofolio kredit yang disalurkan. Baca Juga:
Bank Mandiri dan Garuda Indonesia Tebar Promo di GATF 2026, Cashback Hingga Rp7 Juta CIMB Niaga Berbeda
Berbeda dengan sejumlah bank tersebut, CIMB Niaga justru mencatat kenaikan nilai kredit yang dihapus buku pada paruh pertama tahun ini. Selama semester I-2026, nilai kredit yang dihapus buku CIMB Niaga mencapai Rp 1,99 triliun. Nilai tersebut meningkat tajam dibandingkan Rp 689,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, peningkatan hapus buku tersebut turut diikuti dengan perbaikan rasio kredit bermasalah. NPL CIMB Niaga turun menjadi 1,83% dari posisi 1,88%. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menjelaskan, hapus buku dilakukan terhadap produk dan rekening rutin di portofolio tertentu yang sudah ditetapkan jadwal dan jumlahnya. Di luar itu, ia menegaskan bahwa pada dasarnya kualitas aset bank di semester I-2026 ini terbilang sangat baik. Tak cuman NPL, biaya kredit (cost of credit/CoC) bank juga berhasil ditekan ke bawah 1%.
“Secara kualitas aset. Penghapus bukuan hanya untuk produk dan account rutin di portfolio ritel yang sudah ditentukan jumlah hari hapus bukunya,” tutur Lani. Sementara itu, nilai kredit yang dihapus buku Bank Mandiri relatif stabil. Pada semester I-2026 ini, nilainya sebesar Rp 2,82 triliun, naik tipis dari Rp 2,81 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Namun, kualitas kredit Bank Mandiri tetap menunjukkan perbaikan. NPL bank turun menjadi 0,98% dari sebelumnya 1,08%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News