Harga 200-an, Ini Saham Emiten Konstruksi Pelat Merah yang Layak Dibeli



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten BUMN karya diperkirakan mulai menunjukkan perbaikan pada tahun 2026, meskipun proses merger dan restrukturisasi masih menjadi faktor penahan pemulihan secara agresif.

Sepanjang 2025, sejumlah emiten BUMN karya mencatatkan penurunan nilai kontrak baru. PT Adhi Karya Tbk (ADHI), misalnya, membukukan kontrak baru senilai Rp 18,1 triliun, turun dibandingkan perolehan tahun 2024 sebesar Rp 20 triliun. Meski demikian, ADHI menargetkan nilai kontrak baru sebesar Rp 20 triliun hingga Rp 23 triliun pada 2026.

Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, Rozi Sparta, menyebutkan bahwa mayoritas kontribusi kontrak baru diharapkan berasal dari segmen Engineering & Construction yang menjadi kompetensi inti perseroan.


Kondisi serupa juga dialami PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Sepanjang 2025, WIKA mencatatkan kontrak baru Rp 17,43 triliun, lebih rendah dari capaian Rp 20,66 triliun pada akhir 2024. Untuk 2026, WIKA menargetkan pertumbuhan kontrak baru sekitar 10% hingga 15% dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: IHSG Masih Bisa Rekor Lagi, Cermati Saham Pilihan Analis Berikut

Sekretaris Perusahaan WIKA, Ngatemin alias Emin, menyampaikan bahwa target tersebut didukung oleh selektivitas proyek dan fokus pada kualitas kontrak.

Dalam dokumen Economic Outlook Danantara yang diterima KONTAN, merger BUMN karya dinilai berpotensi menjadi katalis perbaikan kinerja pada 2026. Restrukturisasi diharapkan mampu memperbaiki struktur liabilitas dan meningkatkan kredibilitas rencana kerja emiten di mata pasar modal.

“Setelah liabilitas dan pemilihan proyek membaik, emiten konstruksi pelat merah berpeluang kembali ke pasar modal dengan rencana kerja yang lebih kredibel, baik dari sisi ekuitas maupun daur ulang aset,” tulis dokumen tersebut.

Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai merger BUMN karya berpotensi meningkatkan efisiensi dan struktur biaya dalam jangka menengah. Namun, dampaknya belum akan terasa signifikan dalam jangka pendek karena proses penyehatan neraca masih berlangsung.

Menurut David, risiko dilusi aset tetap ada, tetapi tujuan utama merger adalah memperkuat skala bisnis dan arus kas, bukan sekadar konsolidasi laporan keuangan. Dalam konteks ini, peran Danantara menjadi krusial untuk memastikan restrukturisasi berjalan substansial dan tidak bersifat kosmetik.

Tonton: KPK Geledah Kantor Ditjen Pajak, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Sentimen positif pada 2026 berasal dari pipeline kontrak baru, proyek infrastruktur strategis, serta potensi dukungan pemerintah pascarestrukturisasi. Namun, tekanan masih datang dari tingginya utang, risiko likuiditas, dan margin proyek yang tipis.

Sukarno Alatas, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, juga menilai keberhasilan merger sangat bergantung pada eksekusi restrukturisasi utang, perbaikan tata kelola, dan efisiensi operasional. Tanpa dukungan kuat dari Danantara, dampak merger dinilai berisiko kurang optimal.

Secara selektif, David menilai saham PT PP Tbk (PTPP) sebagai yang paling defensif di antara emiten BUMN karya, dengan target harga indikatif Rp 450–Rp 550 per saham. Sementara ADHI masih bersifat spekulatif dengan potensi jika restrukturisasi berjalan lancar. Adapun WIKA dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dinilai berisiko tinggi sehingga pasar cenderung bersikap wait and see.

Sukarno merekomendasikan buy untuk PTPP dan ADHI dengan target harga 12 bulan masing-masing Rp 450–Rp 500 per saham dan Rp 300–Rp 340 per saham.

Pada perdagangan Rabu 14 Januari 2026, harga saham PTPP di level 402 turun 2 poin atau 0,50% dibandingkan sehari sebelumnya. Selama setahun terakhir, harga saham PTPP terakumulasi naik 60 poin atau 17,54%.

Sementara itu, harga saham ADHI pada perdagangan Rabu (14/1/2026) ditutup di level 266 turun 8 poin atau 2,92%. Setahun terakhir, harga saham ADHI telah naik 32 poin atau 13,68%.

Jadi Korban Timothy Ronald, Younger Ungkap Kronologi Investasi Hingga Rugi Rp 3 Miliar
© 2026 Konten oleh Kontan

Selanjutnya: Sensor Sony LYT600: Mengapa Foto Makro Redmi Note 14 Begitu Hidup?

Menarik Dibaca: Sensor Sony LYT600: Mengapa Foto Makro Redmi Note 14 Begitu Hidup?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News