KONTAN.CO.ID - Harga aluminium dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun pada perdagangan Senin (1/6/2026). Seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer.
Baca Juga: Prancis Sita Kapal Tanker Tagor Milik Rusia, Begini Reaksi Moskow Melansir
Reuters, harga aluminium acuan di London Metal Exchange (LME) naik 0,6% menjadi US$ 3.690 per ton pada pukul 09.16 GMT. Sebelumnya, harga sempat menyentuh US$ 3.707,50 per ton, menyamai level tertinggi yang tercatat pada 26 Mei dan menjadi posisi tertinggi sejak Maret 2022. Kenaikan harga terjadi di tengah meningkatnya risiko pasokan dari kawasan Timur Tengah yang menyumbang sekitar 9% kapasitas peleburan aluminium global. Ketegangan geopolitik yang berujung pada terganggunya aktivitas di Selat Hormuz telah membatasi ekspor aluminium dari kawasan tersebut sekaligus menghambat impor bahan baku yang dibutuhkan untuk proses peleburan.
Baca Juga: UPDATE-Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 3% Senin (1/6), Brent ke US$ 94,05 Aluminium merupakan logam penting yang digunakan dalam berbagai industri, mulai dari otomotif, pesawat terbang, kemasan minuman hingga material konstruksi. Sejumlah analis memperkirakan pasar aluminium global akan mengalami defisit pasokan yang cukup besar pada tahun ini, bahkan ada yang memperkirakan kekurangannya dapat melampaui 2 juta ton. "Aluminium tetap menjadi cerita utama di pasar logam saat ini. Kondisi backwardation yang ekstrem menunjukkan betapa seriusnya tekanan pasokan yang terjadi," tulis Britannia Global Markets dalam risetnya. Backwardation adalah kondisi ketika harga kontrak jangka pendek lebih tinggi dibandingkan kontrak berjangka yang jatuh tempo lebih lama.
Baca Juga: Iran Sebut Sikap AS yang Berubah-Ubah dan Serangan Israel di Lebanon Hambat Diplomasi Di pasar aluminium LME, premi kontrak tunai terhadap kontrak tiga bulan melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir, yakni di atas US$ 100 per ton pada Jumat lalu. Sementara itu, harga tembaga juga bergerak naik karena pasar memperhitungkan ketatnya pasokan di luar AS. Selama setahun terakhir, AS telah menyerap volume tembaga dalam jumlah besar di tengah ekspektasi penerapan tarif impor logam tersebut. Pemerintah AS diperkirakan akan memutuskan pada akhir Juni apakah akan memberlakukan tarif impor tembaga. Persediaan tembaga di gudang terdaftar Comex tercatat mencapai 580.762 ton, melonjak lebih dari 550% sejak Presiden AS Donald Trump memerintahkan penyelidikan terkait tarif impor tembaga pada Februari tahun lalu.
Baca Juga: Netanyahu Perintahkan Serangan ke Beirut, Konflik Israel-Lebanon Kian Memanas Selain itu, proyeksi pertumbuhan pasokan tambang tembaga yang terbatas turut menopang harga logam merah tersebut. Sentimen positif bagi logam industri juga datang dari China. Aktivitas manufaktur di negara konsumen logam terbesar dunia itu tercatat masih berekspansi untuk bulan keenam berturut-turut, memberikan dukungan tambahan terhadap prospek permintaan logam. Pada perdagangan yang sama, harga tembaga naik 1,1% menjadi US$ 13.792 per ton. Seng menguat 0,9% ke US$ 3.571 per ton, timbal naik 0,1% menjadi US$ 2.018 per ton, timah melonjak 2% ke US$ 56.500 per ton, dan nikel bertambah 1,1% ke level US$ 19.280 per ton.