Harga Aluminium Global Naik, Dampak Bagi Industri Kemasan Kaleng Masih Terbatas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesian Packaging Federation (IPF) menilai kenaikan harga aluminium di pasar global tidak memberikan dampak signifikan terhadap industri kemasan nasional.

Hal ini disebabkan struktur pasar kemasan di Indonesia yang didominasi oleh segmen fleksibel dengan kontribusi material aluminium yang relatif kecil.

Komposisi Industri Kemasan Nasional Didominasi Kemasan Fleksibel

Berdasarkan data internal IPF, nilai pasar industri kemasan nasional pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar Rp125 triliun. Dari total tersebut, kemasan fleksibel menjadi segmen terbesar dengan porsi sekitar 45%. Segmen ini umumnya menggunakan material campuran seperti film plastik, kertas tipis, hingga aluminium foil.


Sementara itu, kemasan kaleng hanya menyumbang sekitar 5% dari total nilai pasar. Jenis kemasan ini menggunakan kombinasi material seperti lempengan besi dan timbal untuk produk makanan seperti corned beef dan ikan sarden, serta aluminium untuk minuman berkarbonasi dan bir.

Baca Juga: Kadin dan Apindo Soroti Kontraksi Sektor Tambang pada Kuartal I-2026

Dampak Kenaikan Harga Aluminium Terbatas pada Segmen Tertentu

Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation, Henky Wibawa, menyebutkan bahwa kenaikan harga aluminium global memang berdampak pada segmen kemasan kaleng aluminium, namun pengaruhnya terhadap industri secara keseluruhan masih sangat terbatas.

“Dampak kenaikan harga aluminium adalah ke kemasan kaleng aluminium tersebut, namun relatif nilai pasarnya yang rendah, tidak terasa signifikan menurut saya,” ungkap Henky, kepada Kontan.co.id, Jumat (8/5/2026).

Ia menambahkan bahwa kenaikan harga aluminium saat ini juga dipengaruhi oleh dinamika supply and demand global. Permintaan meningkat seiring pertumbuhan industri kendaraan listrik (EV) dan energi terbarukan yang membutuhkan aluminium dalam jumlah besar.

Segmen Premium Lebih Rentan, Dampak ke Konsumen Minim

Menurut Henky, segmen yang paling terdampak dari kenaikan harga aluminium adalah kemasan kaleng aluminium untuk minuman tertentu yang masuk kategori premium. Namun, dampaknya terhadap konsumen dinilai tetap terbatas.

“Maka harga kemasan yang naik tersebut, saya rasa kecil dampaknya terhadap konsumen yang membutuhkannya,” paparnya.

Hal ini disebabkan produk-produk yang menggunakan kemasan tersebut umumnya memiliki posisi pasar premium, sehingga kenaikan biaya bahan baku tidak langsung memengaruhi daya beli konsumen secara signifikan.

Industri Kemasan Fleksibel Adaptif terhadap Fluktuasi Harga

Di sisi lain, industri kemasan dinilai memiliki fleksibilitas tinggi dalam menghadapi fluktuasi harga bahan baku. Pelaku industri dapat melakukan substitusi material untuk menekan biaya produksi jika harga aluminium terus meningkat.

Baca Juga: APBI Soroti Dampak Aturan Baru DHE SDA Terhadap Fleksibilitas Arus Kas Pertambangan

Peralihan dari aluminium ke material lain seperti plastik atau metal komposit menjadi salah satu opsi yang dapat dilakukan, tergantung pada kebutuhan fungsi kemasan dan karakteristik produk.

Prospek Industri Kemasan Nasional Tetap Tumbuh

Meski terdapat dinamika harga bahan baku global, IPF tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan industri kemasan nasional. Pertumbuhan populasi, peningkatan aktivitas ekonomi, serta ekspansi sektor manufaktur menjadi faktor pendorong utama.

Henky menegaskan bahwa inovasi material dan teknologi akan menjadi kunci keberlanjutan industri ke depan.

“Untuk itu setiap desainer kemasan tentunya sesuai pengetahuan dan keahliannya dapat terus mencari material dan teknologi pengganti agar tetap memenuhi tuntutan kemasan dalam memenuhi segenap faktor kebutuhan secara seimbang dalam hal fungsi, biaya, faktor kesehatan, faktor kenyamanan dan faktor ramah lingkungan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News