KONTAN.CO.ID – LONDON. Harga aluminium melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun pada perdagangan Senin (1/6), seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan militer. Para pelaku pasar menyebut eskalasi konflik di kawasan tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan aluminium global, mengingat Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi logam tersebut. Harga aluminium acuan di London Metal Exchange (LME) naik 0,5% menjadi US$ 3.685 per ton dalam perdagangan resmi. Sebelumnya, harga sempat menyentuh US$ 3.707,50 per ton, menyamai level yang tercapai pada 26 Mei dan menjadi posisi tertinggi sejak Maret 2022.
Baca Juga: India Kejar Tarif Istimewa dari AS Jelang Kesepakatan Dagang Timur Tengah menyumbang sekitar 9% dari kapasitas peleburan aluminium global. Penutupan Selat Hormuz telah membatasi ekspor aluminium dari kawasan tersebut sekaligus menghambat impor bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi logam yang digunakan dalam industri otomotif, penerbangan, kemasan minuman, hingga bahan bangunan. Analis memperkirakan pasar aluminium global akan mengalami defisit pasokan yang besar sepanjang tahun ini. Beberapa proyeksi bahkan menunjukkan kekurangan pasokan dapat melampaui 2 juta ton. Dalam catatannya, Britannia Global Markets menyatakan, "Aluminium tetap menjadi cerita utama di pasar saat ini. Kondisi backwardation yang sangat ekstrem menunjukkan betapa parahnya tekanan pasokan yang terjadi." Backwardation merupakan kondisi ketika harga kontrak aluminium jangka pendek di LME diperdagangkan lebih tinggi dibandingkan kontrak dengan jatuh tempo yang lebih panjang. Premi harga kontrak aluminium tunai dibandingkan kontrak berjangka tiga bulan melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun, yakni di atas US$ 100 per ton pada Jumat lalu.
Harga Tembaga Ikut Menguat
Di sisi lain, harga tembaga juga terus menguat karena pasar memperhitungkan ketatnya pasokan di luar Amerika Serikat. Dalam setahun terakhir, AS menyerap volume tembaga dalam jumlah besar karena adanya ekspektasi penerapan tarif impor logam tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas Memicu Kekhawatiran Inflasi Pemerintah AS diperkirakan akan memutuskan pada akhir Juni apakah akan memberlakukan tarif terhadap impor tembaga.
Persediaan tembaga di gudang yang terdaftar pada Comex tercatat mencapai 640.181 short ton atau setara 580.762 ton metrik. Jumlah tersebut meningkat lebih dari 550% sejak Presiden AS Donald Trump pada Februari tahun lalu memerintahkan penyelidikan terkait kemungkinan penerapan tarif impor tembaga. Selain itu, ekspektasi pertumbuhan pasokan tambang yang lemah turut menopang harga tembaga di level tinggi. Sentimen positif lainnya datang dari China, konsumen logam industri terbesar di dunia. Aktivitas manufaktur di negara tersebut tercatat terus berekspansi selama enam bulan berturut-turut, memberikan dukungan tambahan bagi harga logam industri. Pada perdagangan Senin, harga tembaga naik 1,5% menjadi US$ 13.840 per ton. Sementara itu, harga seng meningkat 1% menjadi US$ 3.576 per ton, timbal naik 0,2% menjadi US$ 2.021 per ton, timah melonjak 2% menjadi US$ 56.590 per ton, sedangkan nikel relatif stabil di level US$ 19.275 per ton.