KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga aluminium naik didorong oleh kekhawatiran tentang pasokan dari Timur Tengah yang dilanda perang setelah Aluminium Bahrain (Alba) menghentikan pengiriman, meskipun penguatan dolar AS membatasi kenaikan. Kamis (5/3/2026) pukul 15.20 WIB, aluminium yang paling aktif di Bursa Berjangka Shanghai ditutup pada perdagangan tengah hari dengan kenaikan 1,31% menjadi 24.815 yuan (US$ 3.598,72) per metrik ton, setelah sebelumnya naik hingga 4,18% menjadi 25.520 yuan. Harga aluminium acuan tiga bulan di London Metal Exchange juga memangkas kenaikannya, naik 0,49% menjadi US$ 3.359 per ton, setelah naik 1,74% sebelumnya pada hari itu.
Alba, yang mengoperasikan salah satu pabrik peleburan aluminium terbesar di dunia, menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada hari Rabu, menghentikan pengiriman karena pengiriman melalui Selat Hormuz hampir terhenti.
Baca Juga: RUU Kripto AS Buntu, Trump Tuduh Bank Jadi Penghambat Iran sebelumnya telah menutup koridor utama untuk komoditas dari Timur Tengah, dan bersumpah akan menyerang kapal apa pun yang mencoba menyeberangi selat sebagai tanggapan atas serangan gabungan AS dan Israel. Berita Alba muncul setelah pengumuman Norsk Hydro tentang penutupan terkontrol usaha patungan aluminiumnya di Qatar, serta keadaan kahar (force majeure). Kawasan Teluk memasok 8% aluminium dunia tahun lalu. Analis di Citi telah menaikkan target harga aluminium LME tiga bulan menjadi US$ 3.600 per ton dari US$ 3.400 dan mengatakan harga dapat naik hingga US$ 4.000 dalam skenario optimis, dengan alasan gangguan perang di Iran. "Keadaan kahar kini telah terwujud di dua produsen Teluk, menandai pergeseran yang jelas dari risiko ke gangguan yang nyata," kata Citi. Kenaikan dibatasi oleh dolar yang lebih kuat, yang membuat komoditas berdenominasi dolar AS kurang terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Logam dasar lainnya mengurangi kenaikan atau berbalik arah untuk diperdagangkan lebih rendah pada perdagangan sore di China. Harga tembaga Shanghai turun 0,16% menjadi 101.080 yuan per ton, sementara harga tembaga London turun 0,83% menjadi US$ 12.948,50 per ton. Investor fokus pada Kongres Rakyat Nasional China. China menetapkan target pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2026 sebesar 4,5%-5%, sedikit lebih rendah dari target 5% yang dicapai tahun lalu, menunjukkan toleransi terhadap pertumbuhan yang lebih lambat.
Baca Juga: Perang AS–Israel vs Iran Picu Lonjakan Harga Gas, Eropa Terancam Krisis Energi Sebuah laporan dari perencana negara mengatakan kapasitas akan dikelola di sejumlah industri, termasuk peleburan tembaga dan alumina, karena negara tersebut bergulat dengan kelebihan kapasitas. Di tempat lain di SHFE, harga seng naik 0,06%, timbal turun 0,06%, nikel turun 0,31%, dan timah turun 0,90%. Di antara logam-logam LME lainnya, seng turun 0,36%, timbal turun 0,79%, nikel turun 1,21%, dan timah merosot 2,80%. ($1 = 6,8955 yuan China)