KONTAN.CO.ID - Harga aluminium menguat ke level tertinggi dalam tujuh pekan pada Selasa (11/8/2026), didorong kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk serta penurunan produksi alumina di Brasil. Melansir
Reuters, harga aluminium acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 1,7% menjadi US$3.373 per ton dalam perdagangan resmi. Harga sempat menyentuh US$3.384,5 per ton, level tertinggi sejak 22 Juni 2026.
Baca Juga: AS Jual Dua Kapal Tanker Minyak Sitaan untuk Dijadikan Besi Tua di India Kenaikan tersebut memperpanjang reli harga aluminium menjadi tujuh sesi perdagangan berturut-turut. Sentimen positif datang setelah produsen aluminium asal Norwegia, Norsk Hydro, mengumumkan pengurangan produksi alumina di fasilitas Alunorte, Brasil. Produksi di fasilitas tersebut dipangkas menjadi sekitar 50% dari kapasitas akibat berkurangnya pasokan gas alam. Alunorte memiliki kapasitas produksi sekitar 6,3 juta ton alumina per tahun. Harga aluminium telah menguat sekitar 6% sepanjang Agustus 2026. Harga juga berhasil menembus rata-rata pergerakan 200 hari pada pekan lalu yang kini menjadi level support di sekitar US$3.219 per ton. Sementara itu, rata-rata pergerakan 100 hari di sekitar US$3.396 per ton menjadi level resistance berikutnya. "Aluminium menghadapi banyak resistensi di US$3.200. Setelah berhasil melewati level tersebut, hanya masalah waktu sebelum harga mulai bergerak lebih tinggi," ujar seorang pedagang logam. Menurutnya, setiap berita positif mengenai pasokan menjadi katalis tambahan bagi kenaikan harga aluminium.
Baca Juga: Sebagian Wilayah Beijing dan China Tengah Dilanda Banjir Akibat Topan Dolphin Pasokan Timur Tengah Terancam Kekhawatiran pasokan dari produsen aluminium di kawasan Teluk turut menopang harga. Kondisi tersebut diperburuk oleh kenaikan harga minyak setelah negosiasi Amerika Serikat dan Iran terkait kesepakatan damai serta pembukaan kembali Selat Hormuz mengalami kebuntuan. Konflik AS-Iran telah mengganggu pengiriman aluminium dari sejumlah produsen di Timur Tengah. Kawasan tersebut menyumbang sekitar 9% kapasitas produksi aluminium global. Persediaan aluminium yang tersedia di gudang-gudang terdaftar LME juga terus menurun. Stok saat ini berada di sekitar 244.550 ton, level terendah sejak April 2025. Sebagian besar stok tersebut merupakan aluminium produksi Rusia, yang cenderung dihindari oleh banyak pedagang. Tekanan pasokan juga tercermin dari selisih harga aluminium tunai dan kontrak tiga bulan di LME yang masih berada dalam kondisi backwardation sebesar US$196 per ton. Posisi tersebut merupakan yang terdalam sejak Oktober dan mengindikasikan ketatnya pasokan untuk kebutuhan jangka pendek.
Baca Juga: Kapal Berbendera Panama Ditembak Helikopter Militer AS di Teluk Oman Harga Tembaga Ikut Menguat Logam dasar lainnya turut bergerak positif. Harga tembaga naik 0,4% menjadi US$14.215 per ton dalam perdagangan resmi LME. Harga tembaga sebelumnya ditutup pada rekor tertinggi US$14.160 per ton pada Senin (10/8/2026).
Kenaikan harga didukung oleh berkurangnya ketersediaan tembaga di luar Amerika Serikat akibat arus pengiriman menuju AS menjelang potensi pengenaan tarif impor. Sementara itu, harga seng relatif stabil di level US$3.739 per ton. Harga timbal naik 0,1% menjadi US$1.905 per ton, sedangkan timah juga menguat 0,1% menjadi US$55.800 per ton. Sebaliknya, harga nikel turun 0,6% menjadi US$16.830 per ton.