Harga aluminium tertekan, Alcoa rugi US$ 178 juta



NEW YORK. Emiten pertama bursa Amerika Serikat (AS) yang mengumumkan laporan keuangan, Alcoa, melanjutkan penurunan kinerja, meski tak sedalam perkiraan pasar.Perusahaan aluminium terbesar AS ini mencatat laba bersih kuartal pertama, sebesar US$ 5,5 miliar, turun 2% dibanding periode Januari-Maret tahun lalu. Penurunan penjualan terseret harga aluminium yang merosot sampai 8%, serta penurunan produksi di bisnis inti logam perusahaan.

Sebelumnya, pasar memperkirakan, penjualan Alcoa merosot sampai US$ 5,4 miliar.Dengan menghitung pengeluaran pos khusus seperti ongkos restrukturisasi, Alcoa tak menderita rugi sebesar US$ 178 juta, atau rugi 16 sen per saham, dibanding untuk 13 sen per saham setahun sebelumnya. Salah satu pengeluaran sekali waktu Alcoa di kuartal I lalu adalah biaya pengurangan kapasitas produksi sebesar US$ 276 juta. Tanpa pos khusus ini, Alcoa masih mencatat untung US$ 98 juta atau 9 per saham."Transformasi kami dipercepat. Kami mendorong bisnis yang memberi nilai tambah aluminium, dan agresif menyusun kembali bentuk bisnis komoditas," kata Klaus Kleinfeld, Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) Alcoa, dikutip Forbes. Cara Kleinfeld menyusun kembali bentuk bisnis komoditas, adalah mengurangi 147.000 ton kapasitas smelter di Brasil yang mengolah ore menjadi aluminium, serta berencana menutup kapasitas pengolahan sebesar 274.000 ton sampai akhir tahun. Manajemen Alcoa tidak memberi gambaran target untuk tahun 2014. Namun, akan fokus pada bisnis dengan nilai tambah aluminium, misalnya pembuatan bahan baku rangka untuk pesawat atau otomotif. Alcoa yakin, tahun ini permintaan aluminium global akan tumbuh 7%.


Editor: Sanny Cicilia