KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar kripto tengah mengalami tekanan akibat maraknya aksi ambil untung (profit-taking) dan tingginya likuidasi. Namun, fase ini dinilai sekadar konsolidasi jangka pendek yang tidak merusak tren pemulihan. Mengutip data dari
Coin Market Cap pada Rabu (14/10/2026) pukul 16:35 WIB, harga Bitcoin (BTC) berada di level US$ 83.188,80, mencatatkan pelemahan sebesar 0,68% dalam satu jam terakhir dan turun 0,19% dalam 24 jam terakhir (harian), dengan total kapitalisasi pasar mencapai US$ 1,67 triliun. Sementara itu, Ethereum (ETH) diperdagangkan di level US$ 2.498,03, turun 0,60% dalam satu jam terakhir dan melemah 0,27% secara harian, dengan kapitalisasi pasar tercatat sebesar US$ 305,21 miliar.
Baca Juga: Imbal Hasil Global Turun, Lelang SUN Domestik Justru Laris Manis Diserbu Investor Analis Reku Andri Fauzan memaparkan bahwa pelemahan pasar baru-baru ini lebih banyak didorong oleh aksi profit-taking pasca reli bulan sebelumnya, serta likuidasi posisi long yang terlampau signifikan. Tercatat, dari rentang total likuidasi yang mencapai US$ 443 juta hingga US$ 502 juta, sekitar US$ 344 juta hingga US$ 410 juta di antaranya bersumber dari penutupan paksa posisi long. Selain itu, pelemahan sementara pada arus dana ETF Bitcoin usai periode masuk (inflow) yang kuat di akhir September lalu turut memperberat langkah pasar. Ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) terkait potensi kenaikan suku bunga tambahan dan tekanan yield obligasi AS juga berhasil memangkas selera risiko (risk appetite) investor terhadap aset kripto alternatif (altcoin). Kendati demikian, dominasi Bitcoin dinilai masih sangat tangguh karena permintaan di pasar spot cukup solid sehingga mampu menahan harga dari kejatuhan yang lebih dalam. "Penurunan kapitalisasi pasar kripto sebesar 2,60% menjadi US$ 2,82 triliun mencerminkan konsolidasi jangka pendek setelah reli September, bukan pembalikan tren yang lebih dalam," terang Andri kepada Kontan, Rabu (14/10/2026). Melihat dinamika fundamental dan teknikal tersebut, Andri menilai peluang kembalinya (bounce back) harga Bitcoin ke area US$ 85.000 masih sangat realistis. Terlebih, titik support psikologis di rentang US$ 80.000 hingga US$ 82.000 sejauh ini masih terbukti cukup kuat untuk menopang pergerakan harga kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut.
Baca Juga: Rupiah Dibayangi Konflik Timur Tengah dan Inflasi AS, Cek Proyeksi Rabu (15/10) "Jika arus ETF kembali positif dan data inflasi tidak memburuk, penembusan US$ 85.000–US$ 87.000 bisa terjadi dalam beberapa minggu hingga bulan ke depan sebagai bagian dari fase recovery menuju target yang lebih tinggi," papar Andri. Menghadapi volatilitas yang masih membayangi, investor disarankan untuk terus mencermati sejumlah indikator penting seperti pergerakan harian arus dana ETF, yield Treasury AS, dan rilis data inflasi ke depan. Terkait pilihan aset, Bitcoin tetap direkomendasikan sebagai aset inti (core asset) berkat likuiditas dan ketahanan relatifnya. Sementara itu, Ethereum layak dipantau untuk potensi catch-up apabila sentimen risk-on kembali menguasai pasar, serta Uniswap dapat dipertimbangkan untuk trading jangka pendek meski dengan profil risiko yang lebih agresif.
Mengenai prospek pasar kripto hingga akhir tahun 2026, Andri memproyeksikan tren secara keseluruhan masih tergolong konstruktif dengan bias pemulihan (recovery). Walaupun ruang koreksi dan volatilitas tinggi masih terbuka lebar, pergerakan aset kripto akan tetap ditopang oleh penyangga struktural yang solid, seperti keberlanjutan arus dana institusi dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal AS, selama tidak muncul kejutan makroekonomi yang terlampau negatif. Oleh karena itu, strategi paling ideal yang bisa diterapkan oleh pelaku pasar saat ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap saat terjadi koreksi, merealisasikan keuntungan sebagian (
partial profit taking) ketika harga kembali memantul, serta memprioritaskan manajemen risiko dengan ketat dan menghindari penggunaan leverage yang berlebihan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News