KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur di sejumlah bandara di Indonesia memicu kekhawatiran akan melambungnya harga tiket pesawat. Ketua Pengurus Harian YLKI, Niti Emiliana menjelaskan, avtur merupakan komponen biaya operasional maskapai yang paling dominan. Ia menilai, tren kenaikan akan menjadi beban berat bagi ekosistem transportasi udara nasional. "Avtur menjadi komponen biaya operasional maskapai terbesar. Kenaikan harga avtur juga menunjukkan fluktuasi harga energi global yang sangat dinamis, ini juga menjadi beban tambahan yang berat bagi ekosistem transportasi udara nasional," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: 321 WNA Ditangkap di Jakarta, Diduga Operasikan 75 Situs Judi Online Niti memprediksi maskapai akan segera melakukan penyesuaian harga tiket untuk menjaga margin keuntungan di tengah tingginya biaya operasional. Meski pemerintah memiliki regulasi Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB), maskapai berpotensi menetapkan harga pada level maksimal. "Dampaknya, maskapai akan menaikkan harga tiket untuk memperhitungkan tekanan biaya operasional yang tinggi dan margin keuntungan," lanjutnya. Di sisi lain, YLKI menyoroti penurunan daya beli konsumen akibat kenaikan biaya transportasi ini. Namun, kebijakan pemerintah menanggung 100% PPN tiket pesawat kelas ekonomi domestik periode 25 April-23 Juni 2026 dinilai sedikit memberikan napas bagi masyarakat. "Konsumen juga akan menanggung beban atas hal ini dan menurunkan daya beli. Namun saat ini Pemerintah menanggung 100% PPN tiket pesawat yang juga sedikit melegakan dan meringankan konsumen," kata Niti. Lebih lanjut, Niti menekankan pentingnya transparansi formula penetapan harga avtur serta pengawasan ketat agar maskapai tidak melanggar ketentuan TBA. Selain itu, Ia menegaskan agar maskapai tetap menjaga kualitas standar pelayanan kepada penumpang meskipun sedang menghadapi tekanan biaya operasional yang tinggi. "YLKI menekankan transparansi formula penetapan harga dan pengawasan agar maskapai tidak melampaui tarif batas atas yang telah ditetapkan. YLKI menekankan untuk tetap menjaga kualitas standar pelayanan, meskipun ada tekanan pada biaya operasional karena harga avtur naik," pingkasnya. Untuk diketahui, berdasarkan data yang dihimpun dari laman resmi Pertamina One Solution, kenaikan signifikan terpantau di gerbang utama udara Indonesia. Di Bandara Soekarno-Hatta (CGK), harga avtur untuk penerbangan domestik naik menjadi Rp 27.357 per liter dari periode sebelumnya sebesar Rp 23.551 per liter. Sementara untuk penerbangan internasional, harganya terkerek dari 142,3 UScents per liter menjadi 162,9 UScents per liter. Tren serupa terjadi di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali (DPS). Harga avtur untuk penerbangan domestik dipatok naik menjadi Rp 29.149 per liter dari sebelumnya Rp 25.343 per liter. Adapun untuk harga avtur penerbangan internasional di Bali merangkak naik dari 152,9 UScents per liter menjadi 173,4 UScents per liter. Di Bandara Ahmad Yani Semarang (SRG), harga domestik naik menjadi Rp 29.116 per liter dan internasional menjadi 173,2 UScents per liter. Sementara di Bandara Juanda Surabaya (SUB) harga domestik kini dibanderol Rp 28.938 per liter dan avtur internasional ditetapkan sebesar 172,2 UScents per liter.
Berikutnya Bandara Kertajati (KJT) turut menyesuaikan tarif. Harga avtur untuk penerbangan domestik di sana meningkat dari Rp 23.551 per liter menjadi Rp 27.357,54 per liter, sedangkan untuk penerbangan internasional naik dari 143 UScents per liter menjadi 162,9 UScents per liter. Di bandara luar kawasan Jawa-Bali juga turut terkerek, mulai dari Batam (BTH), Banda Aceh (BTC), Gorontalo (GTO), Kendari (KDI), Kupang (KOE), hingga Samarinda (AAP). Penyesuaian harga periodik ini mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Dinamika Cadangan Devisa Bergantung pada Risiko Global dan Rupiah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News