KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mulai mewaspadai dampak kenaikan harga avtur dan dinamika geopolitik di Timur Tengah terhadap biaya penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M. Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf mengakui adanya potensi pembengkakan biaya meskipun kontrak dengan maskapai telah dilakukan. Pria yang akrab disapa Gus Irfan ini menjelaskan bahwa fluktuasi harga bahan bakar pesawat menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan saat ini.
Baca Juga: Fitch Naikkan Proyeksi Harga Komoditas 2026, Saham Emiten Tambang Berpotensi Menguat "Kemungkinan potensi tambahan biaya memang ada, misalkan hari ini avtur sudah naik walaupun kita sudah berkontrak dengan maskapai penerbangan sejak beberapa bulan lalu," ujarnya saat ditemui di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Selain faktor harga avtur, ketegangan di wilayah Timur Tengah berpotensi memaksa maskapai melakukan penyesuaian rute penerbangan. Hal ini dikhawatirkan akan berimbas pada durasi perjalanan yang lebih lama dan memerlukan konsumsi bahan bakar lebih besar. "Kemungkinan naik itu karena jalurnya berbeda, dan itu akan memerlukan tambahan waktu terbang otomatis memerlukan tambahan biaya," jelas Gus Irfan. Kendati terdapat tantangan pada sisi biaya operasional penerbangan, Gus Irfan memastikan akan mencari solusi agar beban tersebut tidak langsung dialihkan kepada calon jemaah haji tahun ini. "Tapi Insya Allah kita akan berusaha keras tidak perlu menambah biaya ke jamaah, kita upayakan sumber-sumber lain yang mungkin masih bisa kita upayakan nantinya," pungkasnya. Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang menjelaskan bahwa meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah sedang memanas, pemerintah harus tetap menjalankan persiapan keberangkatan secara normal. Namun, ia tak menampik adanya tekanan beban biaya yang signifikan dari sisi operasional penerbangan. "Dalam keadaan normal pun, kita sudah menghadapi tantangan nih sekarang. Karena kemarin diputuskan avtur itu sudah naik hampir dua kali lipat. Dolar kita putuskan kursnya itu hanya Rp 16.500, sekarang sudah Rp 17.000," ujarnya dalam Haji Outlook 2026 di Studio 1 Kompas TV, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Marwan memprediksi pihak maskapai seperti Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines (Saudia) akan segera menyampaikan keluhan terkait margin biaya operasional. Menurutnya, angka yang telah disepakati dalam Panja dan Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) sulit dipertahankan jika kondisi pasar terus bergejolak.
Baca Juga: GINSI Kritik Kebijakan Batas Pengambilan Container, Rugikan Pelaku Usaha "Ini pasti ada pertambahan. Kita akan mendengarkan keluhan dari Garuda dan Saudia pasti. Tapi akan ada tambahan, gak bisa ngelak kita. Dalam hitung-hitungan kami ya sekitar tambahan yang dibutuhkan itu sekitar Rp 900 miliar, bahkan Rp 1 triliun," tegasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News