Harga Ayam dan Pakan Naik, Saham Sektor Poultry Dinilai Masih Tahan Banting



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga komoditas unggas dan pakan kembali menunjukkan tren penguatan pada Mei 2026. Ini mencerminkan tekanan sisi biaya dan permintaan yang masih solid di sektor peternakan nasional.

Menurut Andreas Saragih Analis Mirae Asset Sekuritas pada 10 Juni 2026, harga rata-rata anak ayam umur sehari (DOC) naik menjadi Rp 5.894 per ekor, meningkat 6,3% secara bulanan dan 35,1% secara tahunan.

Secara kuartalan, rata-rata harga DOC tercatat Rp 5.720 per ekor, meski masih turun 16,1% dibanding kuartal sebelumnya, namun tetap tumbuh 36,3% secara tahunan. Sementara itu, secara akumulasi lima bulan pertama 2026, harga DOC berada di level Rp 6.378 per ekor atau melonjak 36,1% YoY.


Baca Juga: IHSG Melonjak 7% dalam Sepekan, Tapi Asing Masih Kabur Sebesar Rp 67 Triliun

Tak hanya DOC, harga ayam broiler juga turut menguat ke Rp 19.669 per kilogram, naik tipis 0,3% MoM dan 22,3% YoY. Rata-rata kuartalan berada di Rp 19.643 per kilogram, sementara rata-rata Januari–Mei 2026 mencapai Rp21.090 per kilogram atau tumbuh 18,3% YoY.

Di sisi pakan, harga jagung ikut naik menjadi Rp 6.600 per kilogram, meningkat 2,9% MoM dan melonjak 54,9% YoY. Kenaikan ini turut menekan struktur biaya produksi peternak, seiring terbatasnya pasokan di tengah periode panen.

Andreas menilai penguatan harga DOC dan broiler terutama dipicu oleh meningkatnya harga pakan unggas, sementara kenaikan jagung mencerminkan permintaan yang tetap kuat di tengah pasokan yang relatif datar.

Namun di sisi lain, pasar broiler sempat menghadapi tekanan akibat melemahnya harga ayam hidup di tingkat peternak. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk turun tangan menjaga stabilitas harga.

Pada 9 Juni 2026, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) mengeluarkan imbauan kepada pabrik pakan agar menyerap ayam hidup dari peternak rakyat dengan harga minimal Rp 19.500 per kilogram di tingkat peternak. Kebijakan ini ditujukan untuk menahan tekanan harga yang berada di bawah biaya produksi di sejumlah wilayah.

Langkah tersebut sekaligus menginstruksikan pemotongan di fasilitas RPHU untuk ayam dengan bobot minimal 1,8 kilogram, guna menjaga keseimbangan pasokan dan mencegah kerugian peternak kecil.

Menurut Andreas, kebijakan ini mencerminkan kondisi permintaan yang melemah sementara pasokan broiler tetap stabil. Ia memperkirakan harga broiler berpotensi kembali pulih dalam beberapa bulan ke depan setelah intervensi pemerintah mulai efektif di pasar.

Dari sisi konsumsi domestik, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tercatat mengalami normalisasi belanja pada Mei 2026 setelah lonjakan pada bulan sebelumnya. Realisasi belanja turun menjadi Rp 13,15 triliun, atau terkoreksi 33,1% MoM dari rekor Rp 19,66 triliun pada April.

Meski demikian, akumulasi belanja MBG telah mencapai Rp 88,15 triliun atau sekitar 32,9% dari anggaran yang direvisi. Jumlah penerima manfaat juga terus meningkat menjadi 63,1 juta orang, dengan 29.679 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi.

Penurunan belanja bulanan ini dinilai lebih mencerminkan efisiensi program, dengan estimasi biaya per penerima turun di kisaran dua digit dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga: Multikarya (MKAP) Tambah Lini Bisnis Baru, Optimis Pendapatan Tembus Rp 442 Miliar

Secara keseluruhan, sektor unggas masih dinilai prospektif. Dalam risetnya, Mirae Asset Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor ini, dengan ekspektasi kinerja kuat pada kuartal II 2026 serta potensi pemulihan harga broiler setelah intervensi pemerintah berjalan efektif.

Namun, risiko tetap perlu dicermati, mulai dari potensi harga DOC dan broiler yang lebih lemah dari perkiraan, kenaikan biaya input, hingga dampak program MBG yang mungkin tidak sekuat ekspektasi awal.

Sementara, saham yang menjadi pilihan Mirae Asset Sekuritas adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan rekomendasi buy dengan target harga saham masing-masing di Rp 5.550 per saham dan Rp 3.750 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News