KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mayora Indah Tbk (
MYOR) dinilai berada di jalur pemulihan kinerja dengan prospek pertumbuhan laba dua digit pada 2026. Ini seiring membaiknya daya beli masyarakat dan normalisasi harga bahan baku. Analis UOB Kay Hian Sekuritas, Willinoy Sitorus, dalam riset tertanggal 9 Februari 2026 memperkirakan momentum positif MYOR dalam jangka pendek akan ditopang oleh faktor musiman, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek dan Lebaran, serta pemulihan bertahap daya beli. “Kami memperkirakan momentum positif dalam waktu dekat didorong oleh faktor musiman dan perbaikan daya beli,” tulis Willinoy. Setelah mengalami kinerja yang relatif lemah pada paruh pertama 2025 akibat tekanan daya beli dan penyesuaian harga jual rata-rata (ASP) di tengah tingginya harga kopi dan kakao, MYOR mulai menunjukkan pemulihan pada kuartal III 2025. Pada periode tersebut, pendapatan dan laba bersih masing-masing tumbuh 18,0% dan 43,5% secara kuartalan.
Baca Juga: Volatilitas Pasar Saham Tinggi Jelang Pertemuan MSCI, Investor Perlu Waspada Momentum tersebut diperkirakan berlanjut dan menguat pada kuartal IV 2025 hingga kuartal I 2026. Manajemen MYOR mencatat pertumbuhan volume penjualan domestik dua digit pada Oktober 2025, meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan 2%–3% secara tahunan pada kuartal III 2025. Dari sisi profitabilitas, tekanan margin yang terjadi dalam dua tahun terakhir diperkirakan mulai mereda. Sebelumnya, margin laba kotor MYOR tergerus tajam dari 27,8% pada kuartal I 2024 menjadi titik terendah 20,3% pada kuartal II 2025 akibat lonjakan harga bahan baku, khususnya kakao dan kopi, yang dipicu gangguan cuaca El Niño serta penyakit white pod pada tanaman kakao. Namun, dengan tren harga input yang semakin kondusif, UOB Kay Hian melihat ruang pemulihan margin yang lebih luas. Sejak Januari 2025, harga kakao tercatat turun sekitar 47% secara tahunan, sementara harga gandum dan gula masing-masing turun 12% dan 18%, serta harga kopi cenderung stabil. Kondisi ini diperkirakan akan mendorong pertumbuhan laba MYOR sebesar 13,6% secara tahunan pada 2026. “Dengan siklus persediaan kakao yang relatif pendek, penurunan harga bahan baku berpotensi cepat tercermin pada margin. Kami memperkirakan margin kotor berada di kisaran 22%–24% pada kuartal IV 2025,” jelas Willinoy. Selain faktor biaya, MYOR dinilai memiliki keunggulan kompetitif kuat dari sisi diversifikasi geografis. Sekitar 41% pendapatan perseroan berasal dari pasar ekspor yang mencakup lebih dari 100 negara, sehingga mengurangi ketergantungan pada satu pasar dan menekan risiko nilai tukar. Keunggulan tersebut diperkuat oleh posisi MYOR sebagai pemimpin pasar di berbagai kategori produk, dengan merek-merek unggulan seperti Kopiko, Danisa, Energen, dan Beng Beng. Mayora Indah juga terus mencatat peningkatan pangsa pasar di sejumlah kategori utama serta melakukan inovasi produk secara terukur.
Baca Juga: IHSG Naik di Awal Pekan, Cek Rekomendasi Teknikal: BRIS, BUKA, ICBP, Selasa (10/2) Berdasarkan prospek tersebut, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MYOR dengan target harga Rp 2.770, yang didasarkan pada valuasi price to earnings (PE) 19,5 kali untuk estimasi 2026, sejalan dengan rata-rata lima tahun terakhir. Saat ini, saham MYOR diperdagangkan di kisaran 17 kali PE. “Kami melihat potensi re-rating seiring pembalikan kinerja laba dan perbaikan margin, serupa dengan pola yang terjadi pada 2022–2023,” tulis Willinoy. Adapun risiko yang perlu diperhatikan meliputi fluktuasi harga bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah, pemulihan konsumsi yang lebih lambat dari perkiraan, serta persaingan yang semakin ketat. Sementara itu, katalis jangka pendek saham MYOR diperkirakan berasal dari faktor musiman pada kuartal I 2026 dan pemulihan laba pada 2026.
Di akhir 2026, UOB Kay Hian memperkirakan laba Mayora bisa mencapai Rp 4,11 triliun naik dari asumsi tahun 2025 yang bisa mencapai Rp 3,62 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News