KONTAN.CO.ID - Kenaikan harga bahan baku seperti plastik, minyak, dan berbagai komponen lainnya akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan akan menekan daya beli masyarakat Indonesia, khususnya kelas menengah. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik yang bahkan mencapai hingga 100% menjadi beban signifikan bagi pelaku industri. Hal ini krusial karena plastik merupakan komponen biaya produksi terbesar kedua setelah air dalam industri makanan dan minuman (mamin).
Tak hanya itu, Rahma juga menyoroti efek domino yang mulai terjadi. Produsen perlahan membebankan kenaikan biaya produksi kepada konsumen, sehingga harga barang di tingkat ritel ikut terdongkrak. "Kelas menengah menghabiskan sekitar 40,5% pendapatan untuk konsumsi rutin. Kenaikan harga barang kemasan akan langsung mengurangi porsi pendapatan yang bisa dialokasikan untuk tabungan atau investasi," ujar Rahma, Minggu (19/4/2026). Tekanan terhadap daya beli ini diperkirakan semakin berat dengan potensi El Nino yang lebih panjang dan ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Pemilik Kendaraan Listrik Wajib Tahu: Pajak Tahunan Kini Mengintai! Fenomena tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga pangan secara signifikan, sehingga mempersempit ruang konsumsi masyarakat. Di sisi lain, kenaikan harga barang elektronik dan bahan bangunan seperti semen dan baja juga memicu perubahan perilaku konsumen. Masyarakat cenderung mengambil sikap wait and see dalam melakukan pembelian aset besar, terutama di tengah suku bunga kredit yang sensitif terhadap pergerakan BI Rate. Untuk sektor elektronik, permintaan diperkirakan mengalami penurunan moderat karena konsumen mulai memprioritaskan kebutuhan esensial. Sebagai respons, konsumen juga cenderung beralih ke produk substitusi yang lebih terjangkau atau memperpanjang masa pakai barang yang sudah dimiliki. "Kelompok kelas menengah sangat rentan. Kenaikan kecil pada harga barang bangunan atau elektronik saja dapat membatalkan rencana peningkatan kualitas hidup mereka," jelas Rahma.
Tonton: Gencatan Senjata Gagal Serangan Israel ke Lebanon Terus Berlanjut Secara keseluruhan, meskipun konsumsi rumah tangga masih menyumbang sekitar 58,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), tekanan terhadap kelas menengah semakin terasa. Tanpa intervensi fiskal yang tepat, seperti penguatan industri petrokimia domestik dan tambahan insentif pajak, daya beli kelas menengah berpotensi terus tergerus hingga akhir 2026. "Jika tidak diantisipasi, kondisi ini akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News