KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga batubara dan solar industri masih menjadi tekanan bagi produsen semen. Kondisi tersebut mendorong kenaikan biaya produksi, dan berpotensi menekan margin industri semen. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) Lilik Unggul Raharjo mengatakan, kenaikan harga energi menjadi faktor terbesar yang mendorong peningkatan beban operasional industri semen. Selain itu, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) turut membuat harga barang impor meningkat. “Faktor yang paling besar adalah kenaikan harga energi, dalam hal ini harga batu bara dan solar industri, di samping karena dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat, harga barang impor menjadi naik,” ujar Lilik kepada KONTAN, Minggu (30/8/2026). Baca Juga: Konsumsi Melonjak, Kuota Subsidi LPG 3 kg, Solar & Pertalite Terancam Jebol pada 2026 Menurut Lilik, tekanan biaya terutama dirasakan produsen yang tidak mendapatkan alokasi batu bara domestic market obligation (DMO). Produsen tersebut harus membeli batu bara, dengan harga pasar yang lebih tinggi hingga sekitar 39%. Kenaikan harga batu bara non-DMO tersebut, dapat berdampak terhadap biaya produksi sekitar 18%. Sementara itu, kenaikan harga solar industri menyumbang sekitar 4% terhadap kenaikan biaya produksi. Kenaikan beban tersebut pada akhirnya berpotensi menekan profitabilitas produsen semen. Pasalnya, industri semen tidak dapat menaikkan harga jual sebesar kenaikan ongkos produksi. “Margin pasti menurun karena industri semen tidak bisa menaikkan harga jual sebesar kenaikan ongkos produksi,” kata Lilik. Baca Juga: Pefindo Turunkan Peringkat PT INKA Jadi idBB, Prospek Negatif Tekanan biaya operasional diperkirakan masih membayangi industri semen hingga akhir 2026. Hal ini selama harga batu bara dan solar industri tetap tinggi serta dolar AS masih kuat. Dengan kondisi tersebut, produsen semen masih menghadapi tantangan untuk menjaga efisiensi dan profitabilitas. Terutama karena kenaikan biaya produksi tidak sepenuhnya dapat diteruskan melalui kenaikan harga jual semen.
Harga Batubara dan Solar Tekan Margin Produsen Semen
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga batubara dan solar industri masih menjadi tekanan bagi produsen semen. Kondisi tersebut mendorong kenaikan biaya produksi, dan berpotensi menekan margin industri semen. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) Lilik Unggul Raharjo mengatakan, kenaikan harga energi menjadi faktor terbesar yang mendorong peningkatan beban operasional industri semen. Selain itu, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) turut membuat harga barang impor meningkat. “Faktor yang paling besar adalah kenaikan harga energi, dalam hal ini harga batu bara dan solar industri, di samping karena dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat, harga barang impor menjadi naik,” ujar Lilik kepada KONTAN, Minggu (30/8/2026). Baca Juga: Konsumsi Melonjak, Kuota Subsidi LPG 3 kg, Solar & Pertalite Terancam Jebol pada 2026 Menurut Lilik, tekanan biaya terutama dirasakan produsen yang tidak mendapatkan alokasi batu bara domestic market obligation (DMO). Produsen tersebut harus membeli batu bara, dengan harga pasar yang lebih tinggi hingga sekitar 39%. Kenaikan harga batu bara non-DMO tersebut, dapat berdampak terhadap biaya produksi sekitar 18%. Sementara itu, kenaikan harga solar industri menyumbang sekitar 4% terhadap kenaikan biaya produksi. Kenaikan beban tersebut pada akhirnya berpotensi menekan profitabilitas produsen semen. Pasalnya, industri semen tidak dapat menaikkan harga jual sebesar kenaikan ongkos produksi. “Margin pasti menurun karena industri semen tidak bisa menaikkan harga jual sebesar kenaikan ongkos produksi,” kata Lilik. Baca Juga: Pefindo Turunkan Peringkat PT INKA Jadi idBB, Prospek Negatif Tekanan biaya operasional diperkirakan masih membayangi industri semen hingga akhir 2026. Hal ini selama harga batu bara dan solar industri tetap tinggi serta dolar AS masih kuat. Dengan kondisi tersebut, produsen semen masih menghadapi tantangan untuk menjaga efisiensi dan profitabilitas. Terutama karena kenaikan biaya produksi tidak sepenuhnya dapat diteruskan melalui kenaikan harga jual semen.
TAG: