Harga Batubara Kalori Menengah dan Rendah Menguat, Ini Prospek hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Batubara Acuan (HBA) pada November 2026 memperlihatkan tren yang beragam berdasarkan kualitas kalori. Kondisi ini membuka peluang bagi produsen batubara Indonesia, terutama yang berfokus pada segmen kalori menengah dan rendah.

Harga batubara berkalori tinggi tercatat mengalami pelemahan. Sebaliknya, harga batubara dengan kalori menengah dan rendah justru menunjukkan penguatan.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Ishak Razak menilai, perbedaan pergerakan harga tersebut tidak terlepas dari dinamika permintaan dan pasokan di pasar batubara global.


Menurut Ishak, pelemahan HBA batubara kalori tinggi sejalan dengan penurunan harga jual aktual. Sementara itu, kenaikan harga batubara kalori menengah dan rendah ditopang oleh meningkatnya permintaan dari sektor pembangkit listrik di Asia serta pasokan yang relatif terbatas.

“Secara tahunan, HBA utama masih sekitar 21% lebih tinggi dibandingkan November 2025,” ujar Ishak kepada Kontan, Rabu (4/11/2026).

Baca Juga: PGE (PGEO) Pacu Ekspansi Panas Bumi, Bidik Kapasitas 1 GW pada 2028

Ia menilai, penguatan harga batubara kalori menengah dan rendah berpotensi memberikan keuntungan bagi produsen batubara dalam negeri. Hal ini mengingat Indonesia memiliki dominasi produksi pada kedua segmen tersebut.

Meski demikian, kenaikan harga acuan tidak serta-merta menjamin peningkatan keuntungan perusahaan. Produsen juga perlu memperhatikan kemampuan dalam meningkatkan harga jual aktual atau actual selling price serta menjaga biaya produksi agar tetap terkendali.

Dari sisi permintaan, kebutuhan batubara menjelang musim dingin mulai menunjukkan peningkatan, terutama dari China. Namun, keberlanjutan tren tersebut masih bergantung pada sejumlah faktor, seperti tingkat persediaan batubara, kapasitas produksi domestik, serta perkembangan cuaca di negara-negara konsumen utama.

Ishak memperkirakan, harga batubara kalori menengah dan rendah masih berpeluang melanjutkan penguatan secara moderat hingga akhir 2026. Kendati demikian, ia belum melihat adanya indikasi lonjakan harga yang signifikan dalam periode tersebut.

Baca Juga: Waskita Beton (WSBP) Suplai 96 Girder untuk Bangun Infrastruktur di Bali

Pelaku usaha batubara juga perlu mewaspadai sejumlah risiko yang dapat memengaruhi pergerakan harga maupun kinerja perusahaan. Beberapa di antaranya adalah kebijakan produksi dan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta ketidakpastian permintaan dari China dan India.

Selain itu, potensi gangguan cuaca dan logistik turut menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Kenaikan biaya operasional dan volatilitas harga batubara global juga dapat menekan margin keuntungan produsen.

Di sisi lain, perubahan kebijakan kewajiban pasok domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) berpotensi memengaruhi strategi penjualan dan kinerja produsen batubara Indonesia ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News